Home

Rekaman Masa Lalu

Leave a comment


Rekaman

Rekaman

Langkah kakiku mengejar bayang diri yang dihadirkan oleh terik matahari pada siang itu. Sepinya jalanan komplek membuat aku sibuk dengan rasa penat yang dirasa semakin memuncak. Tiba-tiba saja di sebuah belokan kakiku terhenti karena aku baru saja menyaksikan pemandangan yang sungguh sangat luar biasa, pemandangan yang sudah jarang aku saksikan karena rupanya belakangan ini hari-hariku lebih sering dihabiskan di wilayah kampus dan dalam rumah. Pemandangan yang luar biasa itu berhasil membuatku diam tak beranjak, seketika kebahagiaan menyeruak dalam diri, energi positif menjalar pada setiap lekuk saraf yang menegang.

Alunan kakiku terhenti ketika aku mendengar percakapan pendek seperti ini. “Ichiko aku mau beli makanan dulu ya, kamu tunggu saja disini.” Ucap seorang anak perempuan dengan gaya suara yang dikecilkan sambil menggerakan boneka naganya yang berwarna hijau.
“Baiklah.” Jawab anak perempuan yang satu lagi sambil merapikan bulu-bulu teddy bearnya yang berwarna coklat muda.

Sebenarnya tidak ada pemandangan atau pertunjukan yang spektakuler disana, namun kejadian itu membawaku ke masa lalu yang menyimpan sejuta kenangan yang sungguh luar biasa. Masa kecil yang tak dapat kuulangi dan sudah lama kutinggalkan. Dengan sendirinya aku bermain dengan fantasi-fantasi masa laluku, langkah kaki yang awalnya terasa berat berubah menjadi ringan dan seperti melayang di udara tanpa beban.

Betapa bahagianya menjadi seorang anak kecil yang belum memahami apa itu masalah dan apa itu kesusahan. Yang mereka tahu dan pahami hanyalah kesenangan dan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri.

Kepolosan di masa kecil ternyata mampu menjadi obat kepenatan di masa kini. Andai ada dokumentasi nyata saat aku masih kecil, mungkin setiap waktu akan aku putar dan aku tonton. Namun bukan seperti hidup. Kehidupan memberikan fasilitas yang istimewa, rekaman otomatis dalam ingatan kita dan dapat kita jadikan hiburan sekali-sekali saat kita hendak mengenang masa lalu untuk dijadikan pembelajaran di masa kini.

Advertisements

Hati Layaknya Sebuah Kaca

2 Comments


Tiba-tiba saja aku terlintas dengan kalimat “hati itu layaknya sebuah kaca”.

Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sebuah kaca, bermaksud hendak melihat cuaca di luar sana. Entah karena apa pandanganku tak mau pergi dari kaca yang tengah menghubungkanku dengan dunia luar. Bukan suasana di luar rumah yang aku pandangi saat itu namun sebuah kacalah yan tengah aku amati.

Setiap hari debu-debu menempel pada kaca-kaca rumahku, mengingatkanku akan hati yang senantiasa diliputi dosa-dosa yang aku sadari maupun tak kusadari.

Aku melihat bahwa kaca sungguhlah sangat indah, berdiri kokoh meski membutuhkan penopang agar ia dapat berdiri. Hal itu mengingatkanku akan kehadiran hati yang tak dapat menjadi sempurna jika tidak ditopang dengan iman.

Setiap kali aku membersihkan debu-debu yang menempel pada kaca, tak jarang Mamah berseru “hati-hati, awas kacanya pecah”. Kejadian itu menyadarkan aku bahwa sesungguhnya kaca tidaklah sekuat dan seindah seperti apa yang aku lihat. Layaknya hati yang apabila menerima tekanan akan membentuk goresan, bahkan saat sesuatu yang dahsyat menghantam kenyamanan hati maka hati itu akan hancur seperti kaca yang pecah karena terkena hantaman benda keras.

Hati dan kaca, berbeda namun memiliki kesamaan pada satu sisi.

Kaca berfungsi sebagai jalan untuk masuknya cahaya ke dalam rumah agar ruangan di dalamnya bisa menerima sinar yang cukup. Namun jika kaca itu senantiasa ditutup atau mungkin debu yang menempel dibiarkan begitu saja, lama-kelamaan cahaya yang hendak masuk semakin sedikit bahkan bisa menjadi tidak ada. Begitu pun hati, saat dosa-dosa telah menyelimuti kesucian hati maka hati sulit untuk menerima penerangan tentang sesuatu yang benar dariNya.

Sungguh, senantiasalah bersihkan hati dengan beristigfar. Bersihkanlah semua noda dalam hati dengan berdzikir kepadaNya, bertaubat dengan sungguh-sungguh kepadaNya, perbanyaklah berbuat baik, langgengkanlah untuk mengkaji Al Qur’an.

Seorang ulama mengatakan, “Sesungguhnya, hati itu mengkristal sebagaimana mengkristalnya besi, maka lembutkanlah ia dengan Al-Qur’an”.

Maha suci Allah atas apa-apa yang Ia kehendaki.

Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang mampu membersihkan hati dari noda-noda dosa agar kita bisa selalu mendapatkan hidayah dariNya.

Aamiin

Redamlah Airmatamu

1 Comment


“Kenapa dia tega? Dia jahat!!!” Kalimat terakhir itu mengakhiri keluhanku, mataku berkaca-kaca dengan pandangan amarah.

“Menangislah jika itu bisa membuatmu jauh lebih nyaman.” Dia akhirnya bicara setelah panjang lebar aku mengeluh tanpa jeda.

Suasana berubah hening, percakapan yang diawali dengan keluhan kini berubah menjadi sebuah kebisuan. Batin yang sedari awal merasa tersiksa kini semakin jauh lebih tersiksa, kenyataan dan keinginan berbanding terbalik. Ketika ia bicara seperti itu maka aku bungkam, mataku yang berkaca-kaca berubah menjadi beku. Air mata yang siap membanjiri pipi seketika tertahan, entah karena apa.

“Mengapa kau malah diam? Bukankah kau ingin menangis karena sakit hatimu itu?”

Pertanyaan kedua yang semakin membuatku mematung.

“Haruskah aku menangisi hal ini?”
Akhirnya bibirku berucap setelah sekian lama membisu karena batinku yang semakin tak terkendali.

“Harus atau tidak, itu gimana kamu yang akan menjalaninya. Jika menangis bisa membuat kamu lupa dengan semua masalahmu, ya lakukan saja. Tapi jika setelah menangis kamu akan tetap sama seperti ini, lebih baik kamu simpan saja air mata itu.”

Dia pergi meninggalkanku yang duduk tak berdaya. Mataku memandangi langkahnya yang kini sudah hilang dari pandanganku.

Baru kali ini aku bingung tentang masalah menangis. Ruangan ini terasa hampa, gelap tanpa setitik cahaya. Kumenunduk memandang lantai putih di depan mataku. Bayangan itu ada, menatap balik kepadaku. Bayangan itu sungguh sangat menyedihkan. Seperti tidak ada lagi harapan dalam hidupnya, matanya sayu, tatapannya kosong, dan sepertinya aku mengenali sosok itu. Tiba-tiba.
“Ya Tuhan, itu adalah aku. Seperti itukah aku saat ini, nampak hancur seperti tidak akan menemui kebahagiaan lagi.” Hatiku bertanya-tanya karena tak percaya dengan apa yang tengah aku saksikan.

Lama waktuku terbuang hanya untuk memandangi bayangan yang menyedihkan itu.
“Tuhan, itu aku. Mengapa aku seperti ini, bukankah aku memilikiMu. Aku tahu Engkau akan selalu menjagaku, senantiasa memberikan kebahagian yang melimpah.”

Jemari-jemari mulai mengeras, meregang dan menutup wajah mengerikan itu.
“Bodoh!!! Untuk apa aku menangisi hal semacam itu? Terlalu mahal air mata ini untuk aku tujukan kepada dia yang tak mampu menjaga perasaanku!”

Perlahan jari-jari itu menjauh dari wajah, menyeka air mata yang mulai menetes.
“Tuhan, maafkanlah aku yang hampir saja menghamburkan air mataMu ini hanya untuk satu makhlukMu yang telah membuatku sakit. Aku sadar aku salah. Tuhan, aku ingin Engkau memaafkanku atas kehilafanku, aku ingin Engkau berkenan membiarkan aku untuk menangisi semua kesahalahanku dan mengingat semua nikmatMu.”
Air mata itu semakin deras membasahi pipi dan tanganku. Kini hanya ada aku dan Dia di ruangan yang mulai terang dengan kesadaran hatiku.

“Akhirnya kamu nangis juga, apa kamu sudah lega?”
Suara itu menyadarkanku bahwa kini aku bertiga dengan sahabatku. Mata sembabku memandangnya, aku pun tersenyum kepadanya dan berkata.
“Aku tidak sedang menangisi masalahku apalagi menangisi dirinya. Aku tengah menangisi kesalahanku yang bersedih karena masalah itu dan aku menangis karena Tuhanlah yang pantas menerima air mata ini.”

Dia tersenyum dan merangkulku.
“Terima kasih kau telah menjadi dirimu yang seperti dulu. Hapuslah air matamu sekarang, karena ada aku dan Tuhan yang akan selalu menemanimu.

“..dan bahawasanya DIA lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (An Najm : 43) More

Cinta Tanpa Hati Bukanlah Apa-apa

2 Comments


Ketika beberapa orang bangga dengan apa yang ia dengar dan yang ia utarakan, aku hanya tersenyum tanpa rasa bangga dan bahagia. Mereka bahagia saat kata itu terucap dengan jelas, yaitu ungkapan cinta yang ketulusannya masih sangat dipertanyakan olehku. Bagaimana tidak jika aku meragukan semua itu?

Ungkapan itu disampiakan dan diterima setelah ia baru saja kehilangan cinta lamanya karena suatu hal. Itukah yang dinamakan cinta yang tulus dengan ridho sang Ilahi? Aku rasa itu hanya sebuah klise belaka. Untuk apa dia berani berbicara jika hati kecilnya merasakan keraguan dan tidak sanggup menerima konsekwensi yang tidak ia sadari.

Apakah hidup ini akan indah hanya karena cinta? Cinta yang berasal dari keraguan batin dan sangat tergesa-gesa? Bukankah kebahagiaan itu sungguh amatlah banyak, bukankah Allah SWT telah menyediakannya dan itu bukan hanya cinta.

Apalah arti cinta tanpa ada maslahat di dalamnya, hanya sebuah awal dari kehancuran dan penyesalan.

Suatu ketika aku pernah berucap “Meski aku tak memiliki cinta, tapi aku memiliki hati. Hatilah yang akan dapat menilai semuanya, bukan cinta”. Cinta yang kumaksud adalah cinta kepada sesama makhluk yang belum mendapat ridhoNya. Kalimat itu tiba-tiba saja muncul di pikiranku.
Intinya, cinta bukanlah apa-apa tanpa didasari ketulusan hati dan keridhoan dari sang pemilik cinta yang sesungguhnya.

Hemh… Ini anak ngapain ngomongin cinta sih? Jawabannya adalah “kebetulan saja akhir-akhir ini banyak orang yang mengatakan cinta, tak sedikit pula yang merasa sakit karena cinta, bahkan ada pula yang tega membagi cintanya tanpa suatu alasan yang jelas”.
Cinta memang rumit jika tidak ada ketulusan, kepercayaan, keadilan, dan restu dariNya juga kedua orang tua.

Baru saja saya bingung, beberapa orang tidak ingin berpacaran tetapi merasakan perasaan itu. Menurutku perasaan itu sama saja artinya dengan yang namanya ‘pacaran’ bedanya sih tanpa ada peresmian apapun. Dari hasil kesaksianku untuk beberapa kejadian, antara pacaran dan tidak pacaran (tetapi memiliki rasa yang sama) justru jauh lebih berbahaya tidak pacaran atau dengan kata lain HTS [hubungan tanpa status]. >:)

Ya sudahlah… Biarkan orang lain yang menjabarkannya sendiri, terlalu global untuk didefinisikan. :-??

Aku hanya ikut tersenyum untuk kebahagiaan orang-orang di sekelilingku.
Aku hanya cukup ikut prihatin dengan keterpurukan mereka.

MENcintai sebelum DIcintai

2 Comments


-= Diumpamakan: “MENcintai adalah KEWAJIBAN dan DIcintai adalah HAK”. =-

Kewajiban dan hak, materi SD di pelajaran yang dulu bernama PPKN. Semua orang tahu tentang prioritas antara hak dan kewajiban. Sebelum menuntut hak maka otomatis kita harus melaksanakan kewajiban.

Kutipan kalimat di awal tulisan ini aku dapatkan saat tengah berselancar di dunia maya. Salah satu teman memasang status facebooknya dengan tema ‘cinta’, kebetulan di pagi harinya (Jum’at, 040710) aku, Kakak, dan Papa melakukan perbincangan tentang ‘timbal-balik cinta’ bersama Mamah via pesawat telpon.

Pagi itu Kakak saya membahas tentang khutbah Jum’at yang sempat dia dengarkan. Katanya isi khutbah itu membicarakan bahwa saat kita menginginkan agar semua harapan kita terwujud, do’a kita terkabul, dan impian menjadi nyata, maka terlebih dahulu kita harus mencitai Allah SWT dan RasulNya. Mencintai disini, bukan hanya sekedar ucapan namun berupa pembuktian. Caranya dengan menjalankan semua perintah Allah SWT dan mengikuti semua contoh Rasulullah SAW.

Hal tersebut difirmankan Allah SWT dalam surat Al-Imran ayat 31. ‘Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’

Saat kita telah mencintai Allah dengan sungguh-sungguh yang berarti juga mencintai RasulNya, maka Allah akan kembali mencintai kita dan apa-apa yang kita minta akan dengan mudah kita dapat. Diibaratkan seperti Ibu dan anak, seorang Ibu akan begitu mencintai anaknya, setiap apa yang diucapkan sang anak, setiap apa yang diminta sang anak, akan dengan segera beliau berikan, bagaimanapun caranya. Itu logikaku dari bukti kehidupan yang sudah kita ketahui bersama.

Cintai itu luas. Ketika kita mencintai alam ini dengan menjaga kelestariannya, maka kita akan dicintai oleh alam. Alam pun akan memberikan kenyamanan dan keindahan kepada kita. Ketika kita mencintai seorang makhlukNya yang telah halal bagi kita, maka yang kita cintai akan menjadikan kita sebagai yang dicintainya pula.

Hanya kesungguhan dan ketulusan yang kita butuhkan dalam hal MENcintai. Siapapun atau apapun itu, percayalah kita akan menjadi yang DIcintainya sama seperti kita MENcintainya bahkan akan jauh lebih besar dari cinta yang telah kita berikan.

Jangan berharap untuk DIcintai sedangkan kita tak memiliki cinta untuk MENcintai.
Ingatlah, kita akan menuai buah sesuai dengan benih yang telah kita tanam.
Jangan egois untuk menerima, tapi berlapanglah untuk memberi.
Dengan semua itu akan terjadi timbal balik yang indah seperti yang didamba. Dan ‘saling mencintai’ pun akan tercipta.

Teka-teki Maha Dahsyat

1 Comment


“Satu persatu datang. Satu persatu pergi. Satu persatu kembali hadir. Teka-teki yang maha dahsyat.”

Sungguh Allah SWT Maha Adil, Dia menciptakan apa-apa yang ada di bumi secara berpasangan. Perempuan dengan laki-laki, siang dengan malam, besar dengan kecil, kaya dengan miskin, dan datang dengan pergi. Semua tercipta agar terdapat keseimbangan di muka bumi, agar semua makhlukNya bisa dengan cermat memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Bicara tentang adil, keseimbangan, dan pasangan. Satu hal yang terkadang jarang disadari, pergi dan datang adalah sebuah pasangan. Keduanya memiliki sifat yang bertentangan namun itulah yang menyebabkan adanya sebuah kata pasangan.

Disadari atau tidak, dua hal itu selalu ada dalam keseharian kita. Dalam satu hari saja, begitu banyak kejadian yang membuktikan bahwa datang dan pergi memang pasangan yang tak bisa dihindari. Pagi akan datang, kemudian pergi tergantikan oleh sang malam, akan terus seperti itu sampai akhir nanti.

Kehadiran juga kepergian dari sang malam dan siang, tak jauh berbeda dengan kehadiran dan kepergian orang.

Kita hidup sebagai makhluk sosial, mengalami pergantian masa dan lingkungan. Dalam kehidupan sosialku, telah aku lewati masa kanak-kanak, masa SD, masa SMP, masa SMA, dan akan segera memasuki masa perkuliahan.

Tak sedikit aku memiliki teman baru, baik itu teman di lingkungan sekolah, di sekolah lain, bahkan sekarang aku memiliki banyak teman baru dari dunia yang maya ini. Semuanya hadir mengisi cerita hidupku, sehingga kanvas hidupku semakin penuh dengan beragam warna. Dari sekian banyak teman, tak sedikit beberapa dari mereka pergi. Baik karena pindah sekolah atau tempat tinggal, lost contact, atau sedikit dari mereka telah berpulang ke Rahmatullah.

Manusiawi saat beberapa diantara mereka telah pergi, kita akan merasa rindu atau mungkin merasa sedih saat mengingat masa-masa indah bersama mereka dulu. ‘Pergi’ memang sudah menjadi bagian dari roda kehidupan, namun saat hal itu dialami, kita sering berharap “andai semuanya tak terjadi dan andai tak ada kepergian”. Sifat manusia memang selalu berandai-andai, mengharapkan hal-hal yang akan selalu membuat tersenyum.

Sadar atau tidak, selain datang dan pergi. Terkadang beberapa orang yang telah pergi, lama tak berjumpa dengan kita akan bertemu kembali di suatu kesempatan yang tidak pernah kita sangka-sangka.

Datang, pergi, hadir kembali. Ketiganya itu adalah sebuah misteri yang maha dahsyat dari Allah SWT. Tugas kita hanyalah menjalani alur hidup ini dengan penuh keyakinan tanpa harus mengeluh.

Pasangan-pasangan dalam kehidupan yang memiliki sifat bertentangan itu adalah sebuah variasi hidup yang memiliki banyak makna. Bayangkan jika hidup ini tidak terdapat pasangan dan sifat pertentangan, semua akan terasa hambar dan mungkin akan banyak orang yang kehilangan semangat yang memotivasi hidupnya.

Tak usah kau pikirkan tentang semua, cukup jalani hidup ini dan yakini dalam hati “semua ini Allah SWT ciptakan agar kita berfikir dan berusaha menjadi jauh lebih baik untuk menuju maslahatNya”.

Bahagia Bersama Hati dan Pilihan

5 Comments


~Ketika aku memilih, aku yakin dengan pilihanku. Ya aku sangat yakin. Yakin bahwa aku telah memilih BAHAGIA, bukan hanya untukku seorang.~

Bahagia. Hemh… mendengar dan membacanya saja sudah membuat kedua ujung bibir tertarik dan senyum pun mengembang indah. Tapi, ketika apa sih Bahagia itu bisa kita dapatkan? Darimana datangnya sang bahagia?

Wah… wah… Saat mendengar dua pertanyaan itu, pasti kita langsung berpikir keras mencari jawabannya. Atau mungkin dengan segera mencari refrensi tentang bahagia. Itu baru 2 pertanyaan yang membuat bingung, bagaimana jika aku menggunakan semua 5W 1H? Hehehe 😀

Sudahlah kawan, tak usah kau merasa risau, janganlah kau merasa gundah, apalagi kau merasa seperti mengerjakan ujian. *Lebay :D*
Pernah dengar tidak? Sebuah ungkapan mengatakan “bahagia itu berasal dari diri kita sendiri, ada di dalam hati kita”. Kurang lebih seperti itu ungkapannya, aku benar-benar lupa darimana asal dan susunan kalimat yang sesungguhnya. Intinya sih seperti itu.
Setelah aku mencoba mencari pembuktian dari pernyataan itu dan ternyata berhasil, aku semakin yakin bahwa pernyataan itu benar adanya.
Aku menggunakan sample seperti ini. Pernah gak sih, kalian ngerasain yang namanya bete atau bad mood atau apapun itu namanya. Hal seperti itu tak jarang aku rasakan, pernah suatu hari saat aku berulang tahun yang ke 17 *sekarang baru 18 kok*. 😛 Sebenarnya pada saat itu banyak sekali yang memberi ucapan dan hadiah kepadaku. Tapi berhubung aku terbawa suasana murung karena kena dijailin teman-teman dari beberapa hari sebelum hari H, makannya aku ngerasa saat itu aku tidak bahagia. Padahal hal-hal yang bisa dikatakan sumber dari kebahagiaan ada di depan mataku. Aneh bangetlah pokoknya, mungkin kalau ada orang yang nanggepin aku saat itu dia akan menertawakan kebodohanku, bisa-bisanya ngerasa murung, sedih, kesel, intinya bete tingkat akut disaat sumber kebahagiaan datang berturut-turut kepadaku. Dari sana aku tahu dan ngerti, jadi selama kita belum memilih bahagia yang ada di diri dan hati kita, maka kita tidak akan pernah merasakannya walaupun sumber kebahagiaan jelas ada di depan mata.

Dan sekarang setiap aku mengalami hal-hal yang bisa membuatku bad mood atau sedih sekalipun, aku langsung tersenyum dan bicara dalam hati, “aku punya bahagia dalam diriku dan aku kini telah memilih bahagia itu. Agar aku bisa tersenyum dan menyebarkan energi positif kepada semua orang di sekitarku.”
Jadi teman-temanku, segeralah kau sadari apa yang kau punya dalam dirimu. Sesuatu yang begitu berharga dalam kehidupanmu, jangan membiarkannya lenyap karena energi negatif dari luar. Segeralah kau pilih bahagia itu, niscaya kamu akan merasakan ketenangan dan damai yang nyata. Buah dari pilihanmu, dan kamu akan bahagia bersama hatimu juga pilihanmu (yaitu BAHAGIA). 🙂

Older Entries Newer Entries

%d bloggers like this: