Home

Adakah Pacaran Islami?

9 Comments


Pacaran Islami?

Pacaran Islami?

TIDAK.
Adalah jawaban kilat dari judul yang saya ketik. Anda pasti bertanya mengapa dan kata siapa. Iya kan? More

Advertisements

Dibalik Shodaqoh

Leave a comment


Berbagi

Berbagi

Tergugah untuk berbagi pengetahuan saat mendengarkan kajian pada hari Rabu, 27 April 2011 tentang shodaqoh. Pada waktu itu, membahas tentang ketiadaan bukanlah menjadi penghalang utnuk bershodaqoh. Maka dari itu saya segera menyambangi kediaman mbah gugel dan menemukan materi yang begitu luar biasa. Afwan jika kali ini saya langsung mengcopy tanpa merangkumnya. Namun, sesuai sopan-santun copy mengcopy, sertakan tautannya kok. 🙂

Post ini saya pindahkan dari blog tetangga. 🙂

Selamat membaca! More

Tak Ingin Mencuri

1 Comment


Pencuri Hati

Pencuri Hati

 Mengambil dari sebuah hikmah dari sebuah gambar yang saya dapatkan dari mbah Gugel. ^_^

Subhaballah, andai semua pemuda-pemudi sekarang seperti demikian. Kali ini tidak ada bahasan apapun, cukup mewakili dari sebuah gambar.

“Tak ingin mencuri kecintaannya kepada Allah SWT. Biarlah Allah SWT memercikan cintanYa kepada kami dalam sebuah ikatan suci.” asri_ns

Belajar dari Seorang Nenek Penjual Kue

Leave a comment


Setiap pagi selalu aku mendengarkan suara khas dari seorang nenek yang menjajakan dagangannya. Beliau pagi-pagi sekali pergi ke tempat orang-orang yang selalu membuat kue basah dan gorengan, ketika matahari mulai bersinar maka beliau pun mulai berkeliling untuk menjual makanan yang beliau ambil ketika matahari belum terbit. Untuk beberapa kali, saya sering menanti beliau untuk membeli kue dan gorengan.

Ketika saya memanggil karena hendak membeli, beliau senantiasa mengucap hamdallah. Ketika saya memilih makanan yang akan dibeli, beliau ramah sekali. Banyak hal yang beliau ceritakan bahkan tanyakan. Ketika ada sesuatu yang membuat beliau takjub, segera beribu ucapan do’a dipanjatkannya. Saya kagum terhadap nenek-nenek ini, pekerja keras serta ramah kepada setiap pembeli.

Saya malu, sebagai seorang wanita yang masih muda belum bisa bekerja keras dan beramah tamah seperti beliau. Nenek, walaupun kau bukan nenek saya namun saya berharap kelak engkau akan mendapatkan kebahagiaan nyata melalui semua kerja keras dan kebaikanmu. Aamiin

Darimu, aku belajar banyak. 🙂

Pohon Uang

Leave a comment


Semuanya terdiam, masing-masing tengah menikmati hidangan sore. Tiba-tiba saja seorang anak perempuan mungil yang berusia 4 tahun mendekati Ayahnya dan berbisik keras, “Ayah minta uang, Dede mau jajan.” Semua mata spontan tertuju pada mereka berdua, salah satu diantara kami yang pada awalnya diam menikmati kelezatan makanan akhirnya angkat bicara sambil merayu anak itu.
“Naon neng sore-sore jajan, mending makan.” Logat sundanya terasa begitu kental meski sudah tercampur dengan bahasa Indonesia.
“Gak mau ah, Dede mau jajan. Ayah mana uangnya?” Dengan sigap ia menghindari pamannya yang percis ada di sampingnya.
“Maem aja ya, gak usah jajan. Da Ayahnya juga gak bawa uang. Tuh liat kosong.” Bujuk Ayahnya sambil memperlihatkan saku bajunya yang kosong.
“Ah gak mau, Dede minta dua puluh ribu aja. Sisanya ditabung Yah.”
“Iya sok makan dulu, besok aja ya. Da uangnya juga di Bandung, besok Ayah ke Bandung dulu.” Susah payah Ayahnya membujuk putrinya yang lucu itu agar mau makan bersama keluarga.
“Iya Neng, Ayah bade ngala acis heula ka Bandung.” Pamannya yang satu lagi ikut membujuk.
“Ngala acis dina tangkal.” Aku yang kala itu diam tiba-tiba saja bicara seperti itu.
Dalam waktu sekejap semua orang melihat ke arahku, aku pun tersenyum lalu pergi ke dapur untuk menyimpan piring bekas makan.
“Dia dulu gitu, dikiranya tinggal metik di pohon.” Jelas Papa kepada semua anggota keluarga yang masih duduk di tempat makan masing-masing, semua pun tertawa.

Dari kejadian singkat itu aku teringat masa kecil yang begitu konyol jika aku ingat sekarang.
Dulu Papa selalu pulang dua minggu sekali ke kampung halaman, setiap akan kembali ke Bandung tak jarang aku merengek ingin ikut bersama Papa. Salah satu cara jitu yang Papa gunakan adalah dengan bicara seperti ini, “Eh kan bade ngala acis kange meser permen, cokelat, boneka, acuk sareng hoyong naon deui?” ya jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya seperti ini, “Eh kan mau nyari uang buat beli permen, cokelat, boneka, baju sama pengen apa lagi?”. Dengan rayuan seperti itu aku pun luluh karena saat Papa pulang nanti pasti membawa banyak oleh-oleh.

Kejadian paling konyol adalah setiap libur sekolah datang, kami sekeluarga selalu berlibur ke Bandung. Kebetulan yang punya kontrakan Papa adalah saudara sendiri, jadi sering sekali aku main ke halaman belakang yang waktu itu masih banyak pepohonan. Suatu ketika saya pernah bertanya seperti ini, “A kan saur bapa ka Bandungteh bade ngala acis, ari tangkalna mana?” saat itu pula Kakakku diam tak dapat menjawab pertanyaan konyol dari seorang anak kecil yang masih duduk di bangku TK.

Memang benar, daya imajinasi anak kecil itu sungguh luar biasa dan aku salut kepada para orang tua yang berusaha keras untuk tidak mematikan imajinasi anak-anak kesayangannya juga mencoba mengendalikan agar tidak menjurus kepada hal yang tidak selayaknya. Terkadang aku rindu masa kecil, selalu bahagia dengan kasih sayang yang begitu hangat dari Mam, Pap, Kakak juga keluarga besar. Namun sampai sekarang pun aku masih bisa mendapatkannya meski sekarang berbeda dengan dulu, karena menurut mereka aku telah dewasa maka dari itu bentuk kasih sayangnya pun berbeda jauh lebih beragam. 🙂

Ingat Mereka

2 Comments


Pemandangan menakjubkan itu kembali saya temui setelah sekian lama nyaris tak pernah terlihat. Seorang anak perempuan yang begitu polos dengan tingkah has anak-anaknya, bersenandung pelan dan tak berhenti berbicara serta bertanya kepada orang tuanya. Ketika angkutan umum terhenti tepat di depan lampu merah, beberapa orang pengamen menghampiri angkutan umum yang saya tumpangi. Sebagian lagu yang sedang hits mereka nyanyikan dengan nada yang entah benar atau mungkin berantakan.

Tiba-tiba mata saya menangkap sebuah pemandangan yang mengingatkan akan masa kecil. Anak perempuan itu tengah memaksa ayahnya untuk mengeluarkan uang. Ketika ayahnya mengambil uang ribuan dan recehan maka anak itu mengambil selembar uang seribu dan tersenyum ringan menatap wajah ayahnya. Ibunya pun tersenyum kemudian entah berbicara apa. Wajah antusias anak perempuan itu mungkin sama seperti yang saya lakukan ketika dulu hendak meminta uang kepada Mama dan Papa. Saya pun dapat merasakan ketidak sabarannya untuk memberikan uang yang tengah ia genggam, ketika menyerahkan uang ditangan kepada pengamen anak itu tersenyum tulus sambil menatap wajah pengamen yang tepat ada di hadapannya. Rabb aku ingat semuanya, aku ingat masa laluku sama seperti anak perempuan itu.

Ya, dulu saya selalu diajak pergi ke Bandung untuk berlibur dengan menggunakan bis. Hilir mudik pengamen tidak membuat saya kesal, malah saya selalu senang dan memaksa Mamah untuk mengeluarkan uang recehnya mirip dengan anak itu. Ada hal yang aku rindukan dari aktifitas itu, menatap senyum para pengamen yang dulu kebanyakan adalah bapa-bapa selalu membuat saya tenang. Sayangnya, telah lama saya tak melakukan hal itu.

Saya malu dengan masa kanak-kanak dan malu itu nyata ketika seorang anak perempuan yang menggemaskan melakukan hal yang sama tepat di hadapanku.

Sejujurnya saya lebih senang dikala para seniman jalanan itu memilik pekerjaan tetap yang layak, tapi nasib berkata lain kepada mereka. Saya malu dengan aktifitas saya dikala dewasa ini, lebih mementingkan kepentingan pribadi dan melupakan mereka yang jauh lebih membutuhkan. Beruntung saya memiliki keluarga yang senantiasa mengingatkan tentang kedermawanan, meski saya belum sanggup memberikan banyak materi kepada mereka yang membutuhkan. Namun dengan sedikitnya yang saya berikan, minimal dengan bersikap santun dan senyuman dapat membuat mereka nyaman terlebih jika mereka merasa bahagia.

Tuhan, jangan biarkan saya lupa akan keberadaan mereka, karena sesungguhnya semua itu bukan harapan terbesar mereka. Saya yakin bahwa mereka memiliki berjuta harapan agar mereka dapat hidup nyaman dan senantiasa bersyukur atas limpahan karuniaMu. Selalu ingatkanlah hamba akan hak mereka yang Engkau titipkan kepada hamba.

Mau Dibenci atau Disenangi?

Leave a comment


~=~ Pernahkah anda berusaha agar dibenci orang? Atau mungkin anda lebih sering berusaha agar disukai banyak orang? ~=~

Saya yakin, pertanyaan kedualah yang akan teman-teman jawab dengan serempak. Memang seperti itu kenyataan yang sering ditemui dan sudah bukan menjadi hal langka. Sepakat?

Eits… Tunggu dulu dan sabarlah sejenak. Dua pertanyaan itu bukanlah sembarang pertanyaan biasa. Percaya tidak? More

Older Entries

%d bloggers like this: