Pacaran Islami?

Pacaran Islami?

TIDAK.
Adalah jawaban kilat dari judul yang saya ketik. Anda pasti bertanya mengapa dan kata siapa. Iya kan?

Karena setiap dalam pacaran selalu tergurat noda kemaksiatan. Semuanya telah Allah SWT dan Rasul SAW jelaskan.

Dari sebuah status ‘pacaran’ akan ada pertemuan yang disengaja dan pasti merusak pandangan kita.
Ayo tengok dua hadits berikut:
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari kiamat, janganlah ia bersunyi sepi berdua-duaan dengan wanita yang tidak disertai muhrimnya, sebab bila demikian, syetanlah yang akan menjadi pihak ketiganya.” (HR. Ahmad)
Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan itu adalah anak panah beracun dari anak-anak iblis, siapa saja yang dapat menghindarkannya karena takut kepada Allah karena ia akan dikaruniakan kelezatan dan manisnya iman di dalam hatinya.” (HR. Hakim)

Sebagian besar, dari pertemuan-pertemuan membawa kepada kontak fisik. Berpegangan tangan misalnya, padahal haram hukumnya untuk menyentuh wanita atau pria yang bukan muhrim kita.

Na’udzubillah… Dari keberanian saling menyentuh, dapat menjerumuskan ke dalam perzinahan. Padahal jelas, untuk mendekatinya saja, Allah SWT sudah melarangnya.
“Dan janganlah mendekati zina…” (QS. Al Isra: 32)

Sebenarnya, pacaran islami itu ada. Disaat ijab kabul pernikahan telah terikrarkan.

Nah, kalo yang tidak jadian tapi sudah saling tahu dan jarang bertemu bagaimana?

Sama saja, itu pacaran hanya saja tidak bermerk. *ups, kayak makanan aja*
Oke jarang ketemu, tapi kalau tetep intens lewat sms dan kerabatnya (telpon, chating, dkk), itu sama saja. Jangan sampai zina hati, apalagi kata-katanya mesra.

Jadi, bagaimana kalau naksir seseorang?
Bilang saja sama orang tua kamu juga orang tua dia. Masukilah gerbang pernikahan. Bila belum mampu, redamlah hatimu, jangan biarkan saling mengucap cinta.

Berpacaranlah secara islami setelah menjadi suami istri.

-Tulisan didedikasikan untuk saya pribadi sebagai refleksi diri-