Kita awali dengan #CurhatColongan dulu ya.🙂

Mengawali pagi ini dengan bangun dikala makhluk-makhluk lain masih terlelap, seperti biasa untuk berkhalwat bersama Sang Pencipta. Ketika kumandang adzan subuh terdengar dari menara-menara mesjid, maka saya bergegas menyambar handuk dan perlatan mandi. Semangat sekali pada waktu itu, hingga ketika turun tangga harus kepentok pintu penutup lobang tangga. Teriakan kecil pun terdengar , saya nampak seperti orang setengah sadar setengah tidak, gara-garanya ketiduran lagi saat adzan subuh akan segera dikumandangkan. Untung saja tidak benar-benar keras benturannya, hanya kaget saja dan tidak terasa sakit sedikitpun. Wow, hebat ya!😛

Perjalanan menuju kamar mandi, lancar tanpa tragedi apapun. Namun setelah mandi usai dan hendak mengambil wudhu, hampir saja saya jadi korban lincinnya lantai kamar mandi. Kaget setengah mati, tapi gak ampe segitunya. Cuma kaget aja, untung gak sampai jatuh. hehe😀

Keluarlah saya dari kamar mandi dan kembali ke atas. Tiba-tiba, “Aw, Astagfirullah!!!”. Teriakan kecil kembali hadir, kali ini sudah benar-benar sadar. Rupanya saya tidak seimbang ketika hendak menaiki anak tangga pertama, hampir saja terjatuh.

Tapi semangat saya pagi itu benar-benar nyata, tidak seperti biasanya. Alasannya adalah karena tepat dijam 08.00 WIB akan melakukan observasi ke SDN Sukarasa 1. Bukan tugas observasinya yang membuat saya semangat, akan segera bertemu dengan adik-adik membuat semangat saya begitu menggebu-gebu.

 

SDN Sukarasa 1

SDN Sukarasa 1

Tiba di kelas 3 SDN Sukarasa 1, langsung disambut dengan salam dari adik-adik yang sangat antusias ketika kami datang. Sesi wawancara bersama wali kelas (Ibu Sri), berjalan lancar. Apalagi ketika pengamatan, lancar sekali karena kami hanya duduk manis di bangku belakang.😀

Dan, sesi wawancara bersama murid pun tiba.

Ow, ow…. Ketika menemui mereka, yang pertama saya ucapkan adalah. “Permisi, Teteh boleh ngobrol ya. Ade, Teteh ikut lewat dulu ya.” Saya pun lewat begitu saja, seorang anak yang bernama Amel menggeser kursinya yang pada awalnya menghalangi jalan saya. Basa-basi saya lontarkan, namun tiba-tiba ketika saya menengok ke sebelah kiri, Amel menangis. Kaget, diatanya kenapa dia diam. Seorang temannya bilang, “Gara-gara ngehalangin jalan Bu!”. Astagfirullah, disana saya merasa bersalah. Mati-matian saya ngebujuk dan minta maaf, “Dek, maafin Teteh ya. Tadi Ade gak ngehalangin jalan Teteh kok, tadi Teteh cuma minta izin lewat karena mau ngobrol sama ade-ade semua. Kan biar deket Ade juga. Ikut ngobrol yuk! Maafin Teteh ya.” Panjang lebar saya bicara sambil mengeluh rambut dan memeluk tubuhnya, dia tetap menangis. “Namanya siapa?”, serentak adik-adik menjawab, “Amel Teh!”.

Selang beberapa detik dari bujukan pertama, kembali saya bujuk dia. “Amel sayang, beneran kok Amel gak ngehalangin jalan. Sekarang jangan nangis ya, Teteh minta maaf, kita ngobrol yuk sama teman-teman disana. Kalau Amel gak nangis, nanti Teteh kasih hadiah.”

“Bukan sama Teteh kok Amel nangis.” Akhirnya dia angkat bicara. Salah satu temannya bertanya sambil berbisik kepada Amel, terjadi beberapa dialog diantara mereka. “Amel nangis gara-gara Aji bilang kalo Amel ngehalangin jalan Teh.”

“Yang namanya Aji mana?” Saya bertanya, dan Aji langsung angkat tangan.

Sambil tersenyum, saya membalikkan badan sambil tetap jongkok. “Aji minta maaf  yuk sama Amel. Seorang laki-laki harus berani minta maaf sayang.” Semua anak menyuruh Aji agar minta maaf, tapi dia malah geleng kepala dan bilang, “Gak mau ah, tadi udah.”

“Amel, kalau emang bukan gara-gara Teteh. Sekarang ikut ngumpul yuk! Duduknya pindah aja, mau?” Alhamdulillah dia menghapus air matanya dan mengangguk. Salah seorang temannya rela bertukar posisi duduk.

Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan permasalahan kognitif anak, cara berinteraksi dan sosial emosional pun saya utarakan. Tentu saja dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh adik-adik yang masih duduk di bangku kelas 3. Ketika pertanyaan habis, entah kenapa masih ingin bersama mereka. Maka, acara ngerumpi bareng pun terjadi. Yang dibicarakan bukan orang lain, tapi tentang cita-cita, hobi dan hal-hal lain yang sangat menarik. Bahkan saya sempat membacakan puisi yang dibuat saat melakukan pengamatan, terbawa suasana saat mereka sedang membacakan puisi karya masing-masing dengan pemilihan kata dan judul yang luar biasa bagi saya. Acara tebak-tebakkan dan nyanyi pun kami lakukan. Sungguh menyenangkan.🙂

Seketika, beban saya pergi entah kemana. Dikelilingi oleh beberapa anak, membuat saya dapat menyerap energi positif yang begitu berlimpah. Selesai observasi, saya begitu ceria, bahkan status-status dan trit saya di jejaring sosial semuanya ceria sekali.

Mereka meminta saya untuk kembali datang ke Sekolah saat hendak pamit karena waktu telah habis. Alhamdulillah, kehadiran saya dan teman-teman rupanya diterima dengan baik. Seketika saya ingat janji 2 tahun yang lalu kepada adik-adik panti asuhan, belum saja saya menyempatkan untuk kembali berjumpa dengan mereka.

Ingin rasanya segera menjadi seorang Guru SD yang bisa berbagi setiap saat kepada anak-anak. Namun saya masih harus memperkaya ilmu agar dapat mendidik mereka, tidak hanya mengajarkan.

Bismillah, beberapa tahun lagi saya akan bersama mereka. Berbagi ilmu dan suka bersama siswa-siswi.

 

*Dokumentasi belum bisa dipublish, ada di teman.🙂