Semuanya terdiam, masing-masing tengah menikmati hidangan sore. Tiba-tiba saja seorang anak perempuan mungil yang berusia 4 tahun mendekati Ayahnya dan berbisik keras, “Ayah minta uang, Dede mau jajan.” Semua mata spontan tertuju pada mereka berdua, salah satu diantara kami yang pada awalnya diam menikmati kelezatan makanan akhirnya angkat bicara sambil merayu anak itu.
“Naon neng sore-sore jajan, mending makan.” Logat sundanya terasa begitu kental meski sudah tercampur dengan bahasa Indonesia.
“Gak mau ah, Dede mau jajan. Ayah mana uangnya?” Dengan sigap ia menghindari pamannya yang percis ada di sampingnya.
“Maem aja ya, gak usah jajan. Da Ayahnya juga gak bawa uang. Tuh liat kosong.” Bujuk Ayahnya sambil memperlihatkan saku bajunya yang kosong.
“Ah gak mau, Dede minta dua puluh ribu aja. Sisanya ditabung Yah.”
“Iya sok makan dulu, besok aja ya. Da uangnya juga di Bandung, besok Ayah ke Bandung dulu.” Susah payah Ayahnya membujuk putrinya yang lucu itu agar mau makan bersama keluarga.
“Iya Neng, Ayah bade ngala acis heula ka Bandung.” Pamannya yang satu lagi ikut membujuk.
“Ngala acis dina tangkal.” Aku yang kala itu diam tiba-tiba saja bicara seperti itu.
Dalam waktu sekejap semua orang melihat ke arahku, aku pun tersenyum lalu pergi ke dapur untuk menyimpan piring bekas makan.
“Dia dulu gitu, dikiranya tinggal metik di pohon.” Jelas Papa kepada semua anggota keluarga yang masih duduk di tempat makan masing-masing, semua pun tertawa.

Dari kejadian singkat itu aku teringat masa kecil yang begitu konyol jika aku ingat sekarang.
Dulu Papa selalu pulang dua minggu sekali ke kampung halaman, setiap akan kembali ke Bandung tak jarang aku merengek ingin ikut bersama Papa. Salah satu cara jitu yang Papa gunakan adalah dengan bicara seperti ini, “Eh kan bade ngala acis kange meser permen, cokelat, boneka, acuk sareng hoyong naon deui?” ya jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya seperti ini, “Eh kan mau nyari uang buat beli permen, cokelat, boneka, baju sama pengen apa lagi?”. Dengan rayuan seperti itu aku pun luluh karena saat Papa pulang nanti pasti membawa banyak oleh-oleh.

Kejadian paling konyol adalah setiap libur sekolah datang, kami sekeluarga selalu berlibur ke Bandung. Kebetulan yang punya kontrakan Papa adalah saudara sendiri, jadi sering sekali aku main ke halaman belakang yang waktu itu masih banyak pepohonan. Suatu ketika saya pernah bertanya seperti ini, “A kan saur bapa ka Bandungteh bade ngala acis, ari tangkalna mana?” saat itu pula Kakakku diam tak dapat menjawab pertanyaan konyol dari seorang anak kecil yang masih duduk di bangku TK.

Memang benar, daya imajinasi anak kecil itu sungguh luar biasa dan aku salut kepada para orang tua yang berusaha keras untuk tidak mematikan imajinasi anak-anak kesayangannya juga mencoba mengendalikan agar tidak menjurus kepada hal yang tidak selayaknya. Terkadang aku rindu masa kecil, selalu bahagia dengan kasih sayang yang begitu hangat dari Mam, Pap, Kakak juga keluarga besar. Namun sampai sekarang pun aku masih bisa mendapatkannya meski sekarang berbeda dengan dulu, karena menurut mereka aku telah dewasa maka dari itu bentuk kasih sayangnya pun berbeda jauh lebih beragam.🙂