Pemandangan menakjubkan itu kembali saya temui setelah sekian lama nyaris tak pernah terlihat. Seorang anak perempuan yang begitu polos dengan tingkah has anak-anaknya, bersenandung pelan dan tak berhenti berbicara serta bertanya kepada orang tuanya. Ketika angkutan umum terhenti tepat di depan lampu merah, beberapa orang pengamen menghampiri angkutan umum yang saya tumpangi. Sebagian lagu yang sedang hits mereka nyanyikan dengan nada yang entah benar atau mungkin berantakan.

Tiba-tiba mata saya menangkap sebuah pemandangan yang mengingatkan akan masa kecil. Anak perempuan itu tengah memaksa ayahnya untuk mengeluarkan uang. Ketika ayahnya mengambil uang ribuan dan recehan maka anak itu mengambil selembar uang seribu dan tersenyum ringan menatap wajah ayahnya. Ibunya pun tersenyum kemudian entah berbicara apa. Wajah antusias anak perempuan itu mungkin sama seperti yang saya lakukan ketika dulu hendak meminta uang kepada Mama dan Papa. Saya pun dapat merasakan ketidak sabarannya untuk memberikan uang yang tengah ia genggam, ketika menyerahkan uang ditangan kepada pengamen anak itu tersenyum tulus sambil menatap wajah pengamen yang tepat ada di hadapannya. Rabb aku ingat semuanya, aku ingat masa laluku sama seperti anak perempuan itu.

Ya, dulu saya selalu diajak pergi ke Bandung untuk berlibur dengan menggunakan bis. Hilir mudik pengamen tidak membuat saya kesal, malah saya selalu senang dan memaksa Mamah untuk mengeluarkan uang recehnya mirip dengan anak itu. Ada hal yang aku rindukan dari aktifitas itu, menatap senyum para pengamen yang dulu kebanyakan adalah bapa-bapa selalu membuat saya tenang. Sayangnya, telah lama saya tak melakukan hal itu.

Saya malu dengan masa kanak-kanak dan malu itu nyata ketika seorang anak perempuan yang menggemaskan melakukan hal yang sama tepat di hadapanku.

Sejujurnya saya lebih senang dikala para seniman jalanan itu memilik pekerjaan tetap yang layak, tapi nasib berkata lain kepada mereka. Saya malu dengan aktifitas saya dikala dewasa ini, lebih mementingkan kepentingan pribadi dan melupakan mereka yang jauh lebih membutuhkan. Beruntung saya memiliki keluarga yang senantiasa mengingatkan tentang kedermawanan, meski saya belum sanggup memberikan banyak materi kepada mereka yang membutuhkan. Namun dengan sedikitnya yang saya berikan, minimal dengan bersikap santun dan senyuman dapat membuat mereka nyaman terlebih jika mereka merasa bahagia.

Tuhan, jangan biarkan saya lupa akan keberadaan mereka, karena sesungguhnya semua itu bukan harapan terbesar mereka. Saya yakin bahwa mereka memiliki berjuta harapan agar mereka dapat hidup nyaman dan senantiasa bersyukur atas limpahan karuniaMu. Selalu ingatkanlah hamba akan hak mereka yang Engkau titipkan kepada hamba.