Cukuplah Asri, tak usah mencari yang lain karena Asri adalah pemberian terbaik dari dua orang yang berjasa dalam kehidupan ini.

Hihi, siap menyimak? Cekidot!!!

Akhir-akhir ini beberapa teman sekelas menyapa aku via sms dengan tulisan “AsRi”. Sebenarnya aku tidak suka dengan cara penulisan seperti itu, entah karena aku bukan penganut tulisan alay atau karena apa. :??

Salah satu teman yang sempat mendengar keluhanku bilang, “Mungkin itu memang gaya nulis dia As, biasa tulisan gaul gitu.”
Masalahnya, yang ada huruf kapital di tengah hanya pada kata ASRI saja yang lainnya normal. Hemh… Hemh…

Aku memang termasuk orang yang akan cerewet dengan urusan nama. Maklumlah aku punya cerita buruk dengan nama lengkap. Berawal dari Izazah SD sampai orang-orang yang kenalan denganku selalu salah memanggilku dengan panggilan “Astri” atau “Asti”, padahal kecadelanku di huruf ‘R’ gak parah-parah banget. Ya masih bisa bilang “Asri” dengan cukup jelas.

Aku pun termasuk orang yang tidak suka mendapat panggilan yang berasal dari serapan nama asliku tapi jatuhnya jadi seperti manja dan tidak enak didengar olehku. Ya, tahu sendiri anak-anak selalu merubah ‘S’ ke ‘C’. Contohnya “Asri” menjadi “Achi” dan panggilan ini selalu aku tolak saat orang mengajukannya atau spontan memanggilku dengan panggilan “Achi”.

Ketika orang-orang berkata “apalah arti sebuah nama”, begitu berarti bagi seorang Asri yang merasa bangga dengan nama. Hadiah urutan kedua dari orang tuaku, karena hadiah yang pertama kali aku terima di dunia ini adalah kelahiranku. Tanpa kemuliaan orang tuaku, aku tak akan pernah ada di dunia ini dan tak akan ada sosok yang bernama Asri Nurlaela Sari.

Maka dari itu, cukuplah “Asri” tidak dengan “Achi” atau “AsRi”.
Sapaan singkat yang biasa dilontarkan orang-orang di sekitar adalah “As”, “Sri”, dan “Ri”, ketiganya adalah potongan dari sebuah nama “Asri”.๐Ÿ™‚

Aku akan lebih senang jika orang-orang di sekitarku senang menyapaku dengan nama yang benar tanpa perubahan apapun.๐Ÿ™‚