Rekaman

Rekaman

Langkah kakiku mengejar bayang diri yang dihadirkan oleh terik matahari pada siang itu. Sepinya jalanan komplek membuat aku sibuk dengan rasa penat yang dirasa semakin memuncak. Tiba-tiba saja di sebuah belokan kakiku terhenti karena aku baru saja menyaksikan pemandangan yang sungguh sangat luar biasa, pemandangan yang sudah jarang aku saksikan karena rupanya belakangan ini hari-hariku lebih sering dihabiskan di wilayah kampus dan dalam rumah. Pemandangan yang luar biasa itu berhasil membuatku diam tak beranjak, seketika kebahagiaan menyeruak dalam diri, energi positif menjalar pada setiap lekuk saraf yang menegang.

Alunan kakiku terhenti ketika aku mendengar percakapan pendek seperti ini. “Ichiko aku mau beli makanan dulu ya, kamu tunggu saja disini.” Ucap seorang anak perempuan dengan gaya suara yang dikecilkan sambil menggerakan boneka naganya yang berwarna hijau.
“Baiklah.” Jawab anak perempuan yang satu lagi sambil merapikan bulu-bulu teddy bearnya yang berwarna coklat muda.

Sebenarnya tidak ada pemandangan atau pertunjukan yang spektakuler disana, namun kejadian itu membawaku ke masa lalu yang menyimpan sejuta kenangan yang sungguh luar biasa. Masa kecil yang tak dapat kuulangi dan sudah lama kutinggalkan. Dengan sendirinya aku bermain dengan fantasi-fantasi masa laluku, langkah kaki yang awalnya terasa berat berubah menjadi ringan dan seperti melayang di udara tanpa beban.

Betapa bahagianya menjadi seorang anak kecil yang belum memahami apa itu masalah dan apa itu kesusahan. Yang mereka tahu dan pahami hanyalah kesenangan dan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri.

Kepolosan di masa kecil ternyata mampu menjadi obat kepenatan di masa kini. Andai ada dokumentasi nyata saat aku masih kecil, mungkin setiap waktu akan aku putar dan aku tonton. Namun bukan seperti hidup. Kehidupan memberikan fasilitas yang istimewa, rekaman otomatis dalam ingatan kita dan dapat kita jadikan hiburan sekali-sekali saat kita hendak mengenang masa lalu untuk dijadikan pembelajaran di masa kini.