~=~ Pernahkah anda berusaha agar dibenci orang? Atau mungkin anda lebih sering berusaha agar disukai banyak orang? ~=~

Saya yakin, pertanyaan kedualah yang akan teman-teman jawab dengan serempak. Memang seperti itu kenyataan yang sering ditemui dan sudah bukan menjadi hal langka. Sepakat?

Eits… Tunggu dulu dan sabarlah sejenak. Dua pertanyaan itu bukanlah sembarang pertanyaan biasa. Percaya tidak?

Memang kita dianjurkan untuk menjadi pribadi yang selalu disenangi dan dirikndukan oleh setiap orang, tapi bagaimana dan dengan cara apa? Tentu saja dengan cara baik dan apa adanya.

Dua pertanyaan di atas bisa dikatakan sebagai sebuah kiasan, atau perumpamaan atau lebih tepatnya sebuah jebakan yang sungguh tak dapat diketahui. Mengapa demikian?

Saya akan mencoba memaparkan maksud dari pertanyaan yang pertama.
Pernah tidak dihadapkan dengan seseorang yang begitu mengagumi kawan-kawan dan seolah-olah kita ini yang terbaik tanpa cela di hadapannya? Saya pernah dihadapkan dengan orang seperti itu. Atau pernah tidak kawan-kawan merasa tidak nyaman dengan perlakuan dan kehadiran seseorang? Untuk kasus yang satu ini pun saya pernah mengalaminya.

Nah, berhubung pada waktu itu saya sangat bingung bagaimana cara yang tepat untuk meluruskan jalan pikiran orang tersebut saya mengambil situasi agar dia membenci saya. Pasti kawan-kawan bingung kan? Intinya dia terlalu buta dengan kenyataan seperti apa saya, di matanya saya seolah-olah adalah orang yang baik, sempurna, ya pokoknya sangat istimewa tanpa cela baginya. Padahal dia hanya mengenal saya dari sedikit sisi baiknya saja, dia tidak tahu seperti apa saya dari sisi jelek dan sifat-sifat asli saya yang lainnya.
Pada waktu itu dengan sengaja saya berusaha menghadirkan kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat jelek saya. Mulai dari perkataan yang sinis, emosi yang sengaja dinaikkan, perkataan yang sengaja tidak olah (dalam artian saya tidak memikirkan dia tersinggung atau tidak tetapi masih dalam batas wajar tanpa mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor), dan masih banyak yang lainnya. Jujur saja saya sempat merasa tertekan dengan kebiasaan atau cara yang saya pilih, tapi apa boleh buat jika kenyataannya ini adalah cara terbaik agar orang tersebut tidak menilaiku dalam sisi positifnya saja. Karena saya tidak ingin orang yang mengenal saya kecewa saat sifat buruk saya diketahui olehnya, memang salah dia sendiri siapa suruh tertipu dengan penampilan luar atau respon positif yang saya berikan.

Dan untuk penjelasan dari pertanyaan nomor dua, kurang lebih seperti ini.

Saya mempunyai keinginan agar menjadi pribadi yang selalu dirindukan dan disenangi oleh semua orang. Tapi bukan dengan cara klise atau istilahnya berpura-pura. Saya ingin semua orang merindukan saya dan senang terhadap saya dengan sifat asli saya yang mereka ketahui sendiri tanpa saya harus pura-pura baik di hadapan mereka. Mungkin lebih membanggakan lagi saat mereka merindukan dan menyenangi saya karena kinerja, sifat, perilaku, dan prestasi yang saya raih.

Subhanallah betapa akan bahagianya saya ketika saya mendapati orang-orang di sekitar menerima saya apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan, dengan segala kebaikan dan keburukan.

Intinya, BE YOUR SELF!!!

Ketika kita mampu menjadi diri sendiri, maka semua orang akan menerima kita dengan apa adanya kita. Selalulah menjadi pribadi yang berkenan menerima saran dari orang-orang di sekitar untuk menjadikan kita semkain jauh lebih baik dari sebelumnya.

Bijaklah dalam menerima saran dan kritik.
Berpikirlah positif terhadap apa yang ada dalam hidup kita.

Lebih baik dibenci karena apa adanya kita, daripada disenangi dengan kepalsuan diri kita.

Dan bijaklah dalam menilai seseorang, cari tahu dari segala sisi dan aspek kepribadiannya. Jangan sampai tertipu dengan  satu sisi saja.

🙂