Tiba-tiba saja aku terlintas dengan kalimat “hati itu layaknya sebuah kaca”.

Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sebuah kaca, bermaksud hendak melihat cuaca di luar sana. Entah karena apa pandanganku tak mau pergi dari kaca yang tengah menghubungkanku dengan dunia luar. Bukan suasana di luar rumah yang aku pandangi saat itu namun sebuah kacalah yan tengah aku amati.

Setiap hari debu-debu menempel pada kaca-kaca rumahku, mengingatkanku akan hati yang senantiasa diliputi dosa-dosa yang aku sadari maupun tak kusadari.

Aku melihat bahwa kaca sungguhlah sangat indah, berdiri kokoh meski membutuhkan penopang agar ia dapat berdiri. Hal itu mengingatkanku akan kehadiran hati yang tak dapat menjadi sempurna jika tidak ditopang dengan iman.

Setiap kali aku membersihkan debu-debu yang menempel pada kaca, tak jarang Mamah berseru “hati-hati, awas kacanya pecah”. Kejadian itu menyadarkan aku bahwa sesungguhnya kaca tidaklah sekuat dan seindah seperti apa yang aku lihat. Layaknya hati yang apabila menerima tekanan akan membentuk goresan, bahkan saat sesuatu yang dahsyat menghantam kenyamanan hati maka hati itu akan hancur seperti kaca yang pecah karena terkena hantaman benda keras.

Hati dan kaca, berbeda namun memiliki kesamaan pada satu sisi.

Kaca berfungsi sebagai jalan untuk masuknya cahaya ke dalam rumah agar ruangan di dalamnya bisa menerima sinar yang cukup. Namun jika kaca itu senantiasa ditutup atau mungkin debu yang menempel dibiarkan begitu saja, lama-kelamaan cahaya yang hendak masuk semakin sedikit bahkan bisa menjadi tidak ada. Begitu pun hati, saat dosa-dosa telah menyelimuti kesucian hati maka hati sulit untuk menerima penerangan tentang sesuatu yang benar dariNya.

Sungguh, senantiasalah bersihkan hati dengan beristigfar. Bersihkanlah semua noda dalam hati dengan berdzikir kepadaNya, bertaubat dengan sungguh-sungguh kepadaNya, perbanyaklah berbuat baik, langgengkanlah untuk mengkaji Al Qur’an.

Seorang ulama mengatakan, “Sesungguhnya, hati itu mengkristal sebagaimana mengkristalnya besi, maka lembutkanlah ia dengan Al-Qur’an”.

Maha suci Allah atas apa-apa yang Ia kehendaki.

Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang mampu membersihkan hati dari noda-noda dosa agar kita bisa selalu mendapatkan hidayah dariNya.

Aamiin