Essei dengan tema “Kemerdekaan” adalah salah satu tugas dari jurusan/prodi PGSD untuk dikumpulkan saat MOKA hari ke dua. Cukup tergesa-gesa membuatnya, tanpa sumber dan hanya mengandalkan ide yang cukup semrawut pada saat itu.😀

Kemerdekaan bangsa ini sudah menginjak tahun ke 65, namun belum nampak makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Hanya sebatas merdeka dari para penjajah, itukah arti dari merdeka yang didamba semua warga? Rasanya bukan itu, semua warga bukan mengharap status namun mengharapkan realisasi dari sebuah kemerdekaan.

Bicara tentang realisasi dari sebuah kemerdekaan, hak dan kewajiban di Indonesia belum sepenuhnya layak disejajarkan dengan status kemerdekaan yang didapat selama 65 tahun ini. Coba perhatikan saja kenyataan yang ada di hadapan kita. Apa hak rakyat sudah setara dengan kemerdekaan, padahal banyak hak rakyat dirampas. Apa rakyat sudah tuntas melaksanakan kewajibannya, padahal masih banyak kewajiban-kewajiban yang terlalaikan.

Hak dan kewajiban adalah sebuah sitem timbal balik yang tidak dapat dipisahkan dengan alasan apapun. Dengan tertunaikannya sebuah kewajiban maka hak pun akan dengan mudah didapat. Namun kenyataan berbanding terbalik, semua orang lebih cepat tanggap dalam menuntut haknya dibanding dengan menyadari akan runtutan kewajiban yang sudah seyogyanya dilaksanakan dengan kesadaran tanpa menunggu perintah atau tanpa menyisipkan rasa keterpaksaan selama menunaikannya.
Nampak jelas saat ini, hak adalah salah satu fasilitas yang akan dengan mudah didapat oleh orang-orang yang memiliki jabatan, harta, dan kekuasaan. Sedangkan kewajiban adalah satu tuntutan yang hanya dititik beratkan kepada para rakyat yang dinggap rendah dimata para penguasa. Maka tidak heran jika orang berada akan mendapat kelebihan hak dan semakin sedikit kewajibannya. Itukah kemerdekaan? Jika benar, maka kemerdekaan seperti ini hanyalah kemerdekaan untuk orang yang berada dengan sistem dan makna yang salah kaprah.

Pada saat ini mengapa orang-orang rela mengorbankan harta dan harga diri untuk sebuah jabatan yang katanya sebagai wakil rakyat yang akan membela rakyatnya, sebut saja kedudukan yang satu itu karena tengah ramai diperdebatkan dan diperbincangkan. Dengan manis mereka mengumbar janji, namun saat ambisi mereka tercapai maka semua janji itu musnah tak bersisa. Prakteknya mereka bukan ingin membela rakyat namun ingin membela kedudukan dan hak yang akan dengan berlimpah mereka dapatkan. Mana mungkin seorang pembela rakyat sibuk mengurusi masalah fasilitas dan pendapatan dibandingkan dengan sibuk memikirkan bagaimana caranya membebaskan rakyat agar terlepas dari keterpurukan di era globalisasi seperti sekarang ini. Dengan sangat jelas, para wakil rakyat itu sudah berhasil mendapat hak yang berlimpah dengan mengesampingkan kewajibannya sebagai seorang wakil dari para rakyat yang sudah memberikannya amanat terberat.

Meski bangsa ini sudah meredeka dari para penjajah, namun bangsa ini sebenarnya belum merdeka dari ancaman keterpurukan. Kenyataannya semakin hari rakyat miskin semakin bertambah, kerusuhan terjadi dimana-mana, mental anak bangsa semakin bobrok, pendidikan semakin tidak merata dan sifat anak bangsa semakin hancur lebur. Semua keprihatinan itu terjadi hanya karena masalah hak dan kewajiban yang sudah diajarkan di bangku sekolah dasar dalam pelajaran utama yang bernamakan pendidikan kewarga negaraan sudah tidak diingat lagi makna dan bagaimana prakteknya di dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak duduk di bangku sekolah semua siswa sudah mengetahui dasar dari hak dan kewajiban, namun mengapa tidak ada yang sadar dengan kenyataan yang hadir di hadapannya. Nampaknya pelajaran-pelajaran yang sudah didapat hanya sebagai hiasan di masa dulu saat menyandang status sebagai seorang pelajar, setelah menjadi orang penting dan katakanlah telah menjadi orang yang berada maka makna dari materi itu luntur karena ambisi dan ego.
65 tahun, waktu yang sangat lama untuk sebuah waktu yang semakin hari semakin bertambah dan tak dapat dihentikan. Bukan waktu yang singkat untuk merangkak kepada angka ini, tetapi bukti yang ada seperti menggambarkan bahwa bangsa ini baru saja menyandang kemerdekaan beberapa bulan yang lalu. Para orang-orang berada nampak menguasai perubahan zaman dengan secara tidak langsung membentuk rumus hidup baru versi mereka, “bahwa hak itu sepenuhnya untuk kami yang memiliki kekuasan juga kekayaan sedangkan kewajiban adalah untuk kalian para rakyat kecil yang dengan mudah kami tipu dengan janji manis yang lalu”.

Makna kemerdekaan yang sesungguhnya akan didapat jika semua pihak mau tanggap dan menyadari apa yang harus dilakukan dan apa yang salah dari sikapnya selama ini.
Kerusuhan tidak akan pernah berhenti jika rakyat semakin ditindas dengan hak-haknya yang selalu dirampas, silang pendapat tidak akan pernah selesai jika ego dan ambisi terus dijadikan yang terdepan, dan kemerdekaan yang sesunggunya tidak akan bisa dirasakan jika makna dari hak dan kewajiban belum mampu direalisasikan.

Kemerdekaan adalah tanggung jawab semua elemen yang ada di dalamnya, baik itu para petinggi maupun rakyat. Tanggung jawab untuk sebuah kemerdekaan bukan disaat merebut dari tangan penjajah saja, tetapi disaat status itu sudah disandang maka tanggung jawab yang tengah diemban semakin berat.