Di suatu malam ketika aku hendak pergi ke luar, aku menyaksikan pemandangan yang sudah jarang aku temui. Dua anak yang tengah menyambut kedatangan Ayahnya dari kantor membuatku terdiam hanya untuk sekedar menyaksikan rentetan kejadian singkat itu.

“Ayah pulang!!! Ayah… Ayah… Tadi Ade dibeliin sendal Upin Ipin di Yogya, lucu loh Yah. Ada yang gedenya juga.” Seru anak yang pertama kali membuka pintu rumah, padahal Ayahnya belum turun dari motor.

“Ih Ayah, masa di sekolah kakak tadi ada yang nangis gara-gara gak ngerjain PR.” Anak kedua pun menyusul tak mau kalah dengan anak yang pertama kali membukakan pintu.

“Masuk yuk! Ceritanya di dalam rumah, Ayah mau nyimpen motor dulu.” Ucap Ayahnya sambil menuntun kedua anak itu.

Saat Ayahnya menyimpan motor, kedua anak itu malah lari ke sebrang menemui temannya yang berada di luar rumah.

“Iya tahu gak, tadi aku baru saja dibeliin sendal Upin Ipin.” Dengan bersemangat salah satu anak itu menunjukkan sendalnya kepada teman di sebrang rumah yang sering disapa dengan nama Iya. Kejadian itu percis di hadapanku.

“Iya punya ini, susah loh maeninnya. Kalian bisa enggak?” Anak ketiga tak mau kalah, langsung menunjukkan rubik yang tengah dia pegang sedari berada di luar rumah.

“Eh kenapa kalian gak masuk, mau jajan apa emang?” Ayahnya keluar mengahmpiri kedua anaknya, nampak sudah menjadi kebiasaan ketika Ayahnya pulang kerja mereka akan pergi ke warung dekat rumah.

Pemandangan indah itu mengingatkan masa kecilku. Dulu aku dan kakak pun selalu seperti itu, selalu ribut ketika Papa datang dari Bandung. Mana dulu Papa pulang dua minggu sekali. Setiap Papa datang aku langsung menyerbu tas Papa yang berisi pesanan-pesananku, pesanan yang selalu aku list tidak jauh dari permen-permen, mainan, dan makanan produk baru. Maklum sewaktu kecil aku korban iklan di TV.😀

Aku ingat, dulu pernah berceloteh kepada Mamah dengan enteng tanpa berpikir panjang.

“Mah, kenapa sih Bapa-bapa itu kalau pulang pasti bawa kardus-kardus gede. Kok Papa gak pernah sih Mah?” Sambil menunjuk dan memperhatikan tetangga yang baru datang dari Jakarta menenteng dua kardus yang cukup besar.

“Bapa-bapa itu kan jarang pulang, jadi setiap pulang selalu bawa oleh-oleh banyak. Kalau Papa kan pulangnya sering, mana selalu bawain makanan.” Jawab Mamah mencoba menghentikan pertanyaan-pertanyaanku yang selalu ingin tahu banyak. Padahal Mamah pun tidak tahu apa isi dari kardus-kardus yang dibawa oleh Bapa-bapa yang rumahnya tepat di belakang rumahku.

“Oh iya ya Mah. Nanti aku mau pesen permen yang diiklan tadi ah.” Sambil tersenyum aku pergi melanjutkan bermain bersama kakakku.

Masa kecil itu terlalu indah untuk dilupakan. Kenangan termanis penuh dengan kepolosan. Kejadian itu sudah tidak pernah lagi aku temui dan aku rasakan. Seiring beranjak dewasa aku mulai menemui kisah-kisah yang berbeda dari masa kecil, mulai mengenal masalah hidup dan kehidupan, mulai berpikir logis dan kritis tanpa memaksakan kehendak seperti dulu, dan mulai menempatkan diri pada setiap kejadian yang mengahampiri aku dan keluarga.

Waktu terus mengikuti setiap langkahku, atau mungkin langkahku yang selalu mengikuti alurnya sang waktu. Aku sudah tidak menjadi anak kecil lagi, dari umur aku sudah dikatakan dewasa. Namun sudahkah aku dewasa? Pertanyaan terbesar yang harus segera aku temukan jawabannya. Karena terkadang aku menjadi anak kecil lagi disaat berada bersama keluarga miniku. Dengan polosnya aku bemanja kepada Mamah, Papa, Kakak, bahkan tak jarang aku manja terhadap adikku. Tanpa mejaga image aku selalu cerewet dan masa bodo dengan gayaku saat aku bercerita tentang ini-itu kepada keluarga. Tapi kadang aku bersikap bijak saat setitik masalah hinggap dalam keluargaku.

Aku tidak membutuhkan pengakuan dari siapapun tentang kedewasaanku. Yang terpenting bagiku adalah aku mampu menempatkan diriku, mampu mengambil posisi yang tepat dalam segala keadaan. Karena bagiku itulah dewasa.