“Kenapa dia tega? Dia jahat!!!” Kalimat terakhir itu mengakhiri keluhanku, mataku berkaca-kaca dengan pandangan amarah.

“Menangislah jika itu bisa membuatmu jauh lebih nyaman.” Dia akhirnya bicara setelah panjang lebar aku mengeluh tanpa jeda.

Suasana berubah hening, percakapan yang diawali dengan keluhan kini berubah menjadi sebuah kebisuan. Batin yang sedari awal merasa tersiksa kini semakin jauh lebih tersiksa, kenyataan dan keinginan berbanding terbalik. Ketika ia bicara seperti itu maka aku bungkam, mataku yang berkaca-kaca berubah menjadi beku. Air mata yang siap membanjiri pipi seketika tertahan, entah karena apa.

“Mengapa kau malah diam? Bukankah kau ingin menangis karena sakit hatimu itu?”

Pertanyaan kedua yang semakin membuatku mematung.

“Haruskah aku menangisi hal ini?”
Akhirnya bibirku berucap setelah sekian lama membisu karena batinku yang semakin tak terkendali.

“Harus atau tidak, itu gimana kamu yang akan menjalaninya. Jika menangis bisa membuat kamu lupa dengan semua masalahmu, ya lakukan saja. Tapi jika setelah menangis kamu akan tetap sama seperti ini, lebih baik kamu simpan saja air mata itu.”

Dia pergi meninggalkanku yang duduk tak berdaya. Mataku memandangi langkahnya yang kini sudah hilang dari pandanganku.

Baru kali ini aku bingung tentang masalah menangis. Ruangan ini terasa hampa, gelap tanpa setitik cahaya. Kumenunduk memandang lantai putih di depan mataku. Bayangan itu ada, menatap balik kepadaku. Bayangan itu sungguh sangat menyedihkan. Seperti tidak ada lagi harapan dalam hidupnya, matanya sayu, tatapannya kosong, dan sepertinya aku mengenali sosok itu. Tiba-tiba.
“Ya Tuhan, itu adalah aku. Seperti itukah aku saat ini, nampak hancur seperti tidak akan menemui kebahagiaan lagi.” Hatiku bertanya-tanya karena tak percaya dengan apa yang tengah aku saksikan.

Lama waktuku terbuang hanya untuk memandangi bayangan yang menyedihkan itu.
“Tuhan, itu aku. Mengapa aku seperti ini, bukankah aku memilikiMu. Aku tahu Engkau akan selalu menjagaku, senantiasa memberikan kebahagian yang melimpah.”

Jemari-jemari mulai mengeras, meregang dan menutup wajah mengerikan itu.
“Bodoh!!! Untuk apa aku menangisi hal semacam itu? Terlalu mahal air mata ini untuk aku tujukan kepada dia yang tak mampu menjaga perasaanku!”

Perlahan jari-jari itu menjauh dari wajah, menyeka air mata yang mulai menetes.
“Tuhan, maafkanlah aku yang hampir saja menghamburkan air mataMu ini hanya untuk satu makhlukMu yang telah membuatku sakit. Aku sadar aku salah. Tuhan, aku ingin Engkau memaafkanku atas kehilafanku, aku ingin Engkau berkenan membiarkan aku untuk menangisi semua kesahalahanku dan mengingat semua nikmatMu.”
Air mata itu semakin deras membasahi pipi dan tanganku. Kini hanya ada aku dan Dia di ruangan yang mulai terang dengan kesadaran hatiku.

“Akhirnya kamu nangis juga, apa kamu sudah lega?”
Suara itu menyadarkanku bahwa kini aku bertiga dengan sahabatku. Mata sembabku memandangnya, aku pun tersenyum kepadanya dan berkata.
“Aku tidak sedang menangisi masalahku apalagi menangisi dirinya. Aku tengah menangisi kesalahanku yang bersedih karena masalah itu dan aku menangis karena Tuhanlah yang pantas menerima air mata ini.”

Dia tersenyum dan merangkulku.
“Terima kasih kau telah menjadi dirimu yang seperti dulu. Hapuslah air matamu sekarang, karena ada aku dan Tuhan yang akan selalu menemanimu.

“..dan bahawasanya DIA lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (An Najm : 43)

Subhanallah… Air mata yang Allah ciptakan sangatlah luar biasa, tak pernah air mata itu mengering. Jika air mata itu kita kumpulkan mungkin sebanding dengan banyaknya air di muka bumi ini atau mungkin lebih. Wallahu’alam

Sesungguhnya menangis bukanlah sebuah jalan untuk menyelesaikan masalah. Apakah dengan menangis lantas masalah kita akan selesai dengan sendirinya? Tentu saja tidak.
Tangisan itu ada dua macam, tangisan yang terpuji dan tangisan yang tercela. Bingung? Pasti kita berpikir, seperti apa contohnya?

Tangisan yang terpuji ialah tangisan yang terjadi karena menginsafi dosa-dosa yang telah kita perbuat dan tangisan saat merasa takut akan adzab Allah SWT. Intinya tangisan ini hanya semata-mata karenaNya dan untukNya.

Tangisan yang tercela ialah tangisan yang meratapi kepergian seseorang (meninggal), bahkan tak jarang ada yang sampai-meraung-raung, memukuli diri sendiri dan lain sebagainya.

Apapun penyebabnya sebisa mungkin hendaklah kita bendung, terkecuali menangis disaat kita sedang bersamaNya, saat kita meminta lautan maaf kepada sang pencipta air mata ini.

“Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara, Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan, lidahmu basah dengan berzikir kepada penciptamu, hatimu takut dan gemetar kepada kehebatan Rabbmu, dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang memilikimu.”