-= Diumpamakan: “MENcintai adalah KEWAJIBAN dan DIcintai adalah HAK”. =-

Kewajiban dan hak, materi SD di pelajaran yang dulu bernama PPKN. Semua orang tahu tentang prioritas antara hak dan kewajiban. Sebelum menuntut hak maka otomatis kita harus melaksanakan kewajiban.

Kutipan kalimat di awal tulisan ini aku dapatkan saat tengah berselancar di dunia maya. Salah satu teman memasang status facebooknya dengan tema ‘cinta’, kebetulan di pagi harinya (Jum’at, 040710) aku, Kakak, dan Papa melakukan perbincangan tentang ‘timbal-balik cinta’ bersama Mamah via pesawat telpon.

Pagi itu Kakak saya membahas tentang khutbah Jum’at yang sempat dia dengarkan. Katanya isi khutbah itu membicarakan bahwa saat kita menginginkan agar semua harapan kita terwujud, do’a kita terkabul, dan impian menjadi nyata, maka terlebih dahulu kita harus mencitai Allah SWT dan RasulNya. Mencintai disini, bukan hanya sekedar ucapan namun berupa pembuktian. Caranya dengan menjalankan semua perintah Allah SWT dan mengikuti semua contoh Rasulullah SAW.

Hal tersebut difirmankan Allah SWT dalam surat Al-Imran ayat 31. ‘Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’

Saat kita telah mencintai Allah dengan sungguh-sungguh yang berarti juga mencintai RasulNya, maka Allah akan kembali mencintai kita dan apa-apa yang kita minta akan dengan mudah kita dapat. Diibaratkan seperti Ibu dan anak, seorang Ibu akan begitu mencintai anaknya, setiap apa yang diucapkan sang anak, setiap apa yang diminta sang anak, akan dengan segera beliau berikan, bagaimanapun caranya. Itu logikaku dari bukti kehidupan yang sudah kita ketahui bersama.

Cintai itu luas. Ketika kita mencintai alam ini dengan menjaga kelestariannya, maka kita akan dicintai oleh alam. Alam pun akan memberikan kenyamanan dan keindahan kepada kita. Ketika kita mencintai seorang makhlukNya yang telah halal bagi kita, maka yang kita cintai akan menjadikan kita sebagai yang dicintainya pula.

Hanya kesungguhan dan ketulusan yang kita butuhkan dalam hal MENcintai. Siapapun atau apapun itu, percayalah kita akan menjadi yang DIcintainya sama seperti kita MENcintainya bahkan akan jauh lebih besar dari cinta yang telah kita berikan.

Jangan berharap untuk DIcintai sedangkan kita tak memiliki cinta untuk MENcintai.
Ingatlah, kita akan menuai buah sesuai dengan benih yang telah kita tanam.
Jangan egois untuk menerima, tapi berlapanglah untuk memberi.
Dengan semua itu akan terjadi timbal balik yang indah seperti yang didamba. Dan ‘saling mencintai’ pun akan tercipta.