Selalu sama. Apa yang aku utarakan selalu salah di matanya. Selalu dia bilang bahwa tak hanya aku yang merasakan, tapi dia juga. Aku tahu, bahkan jauh lebih dari sekedar tahu. Tapi tidakkah bisa dia mengerti diriku walau untuk sekedar mendengarkan apa yang aku sampaikan. Apakah apa yang aku rasakan tak pantas untuk dia tahu, apakah yang aku utarakan tak pantas untuk dia perhatikan.

Aku merasa tersudut setiap kali dia bicara bahwa bukan cuma aku yang merasakan tapi dia pun sama merasakan. Bukankah hati manusia itu berbeda, tak pernah sama. Hanya beberapa persen dari keseluruhan yang memungkinkan untuk sama.

Mengapa? Dia selalu berhasil membuatku bungkam karena dia membuatku merasa bahwa ternyata aku salah dan tak seharusnya aku memaksakan kehendaku. Dia selalu bilang bahwa aku egois, padahal kita sama-sama egois. Aku dan dia sama-sama egoisnya, tapi mungkin hanya egoisku yang nampak di matanya.

Aku lelah Rabb, sungguh aku lelah. Tak pernah ada kesempatan untuk aku memberitahukan apa yang sebenernya aku rasakan. Dia akan menerima semua kata-kataku setelah marah dan kesalku hadir. Apakah harus seperti itu? Selalu berulang sejak dulu hingga sekarang.

Kini aku bersyukur akan segera terhenti dari semuanya, akan segera meninggalkan semuanya. Karena aku lebih baik memendam semuanya, aku lebih memilih bercerita kepadaMu dan mengutarakan semuanya lewat tulisan-tulisanku tanpa harus tahu apa yang dia sangkal dari semua ucapanku.

Itulah sebab mengapa aku selalu berbelit saat bicara terhadapnya, tak pernah pada intinya. Itulah sebab mengapa aku terkesan selalu menyimpan rahasia dan tidak ingin memberitahukannya.
Astagfirullah…
KehendakMu sungguh sangatlah indah. Alhamdulillah…