Wih… Judulnya udah tentang cinta-cintaan dan pacar-pacaran nih…😀
Eits… STOP!!! Jangan berpikir yang tidak-tidak kawan. Aku mempublish ini dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya, tidak sedang mabuk cinta. Hahaha…

Kenapa tulisan ini aku buat? Sebenarnya sedang proses cuci otak, maksudnya sedang ingin terhindar dari kemelut cerita cinta anak remaja yang tidak ada habisnya. Di pagi jum’at yang mendung ini tiba-tiba saya berceloteh kepada Kakak.

Me: “Eh A, gak selamanya cinta pertama itu adalah pacar pertama ya.”
Kakak: “Maksudnya apa?”
Me: “Ya iya, gak semua orang nemuin cinta pertamanya saat dia dapet pacar pertama.”
Kakak: “Iya juga.”

Itu adalah kutipan percakapan singkat kami berdua. Apa kalian masih bingung dengan maksud saya? Mudah kok mencari tahu jawabannya.

Begini. Kita harus tahu dulu apa sih arti cinta pertama itu dan apa arti pacar pertama.
Cinta pertama menurut aku, perasaan cinta yang tulus dan datang dengan sendirinya tanpa ada yang memaksa.
Pacar pertama menurut aku, seseorang yang untuk pertama kalinya resmi membina komitmen untuk lebih dari seorang teman dan sahabat, dalam arti lain yang pertama kali resmi berpacaran ceritanya.

Jika salah satu dari kalian berpikir, “pacar pertama ya udah pasti jadi cinta pertama lah. Toh dia dijadiin pacar karena cinta.”
Yakin tuh? Aku tidak benar-benar yakin dengan hal itu. Aku mencari sample dari anak-anak remaja yang sudah mengenal istilah pacaran, bahkan aku menjadikan diriku sendiri sebagai sample itu.

Tak jarang anak remaja bersedia menerima ajakan pacaran karena didasari rasa ‘kasian’ dan ‘tidak enak’. Dengan kata lain, mereka berpacaran karena terpaksa. Dengan niat ingin menjaga perasaan orang yang bersangkutan. Tapi hal seperti itu justru akan lebih membuat sakit hati orang yang bersangkutan dan akan menyiksa diri sendiri. Menjalani semuanya dengan dasar keterpaksaan, tak menutup kemungkinan akan ada kebohongan-kebohongan yang tercipta.

Jadi benar kan, cinta pertama itu tidak sama dengan pacar pertama. “Tak selamanya pacar pertama adalah cinta pertama”.

Bisa saja cinta pertama itu telah dirasakan jauh sebelum mendapatkan seorang pacar. Atau justru cinta pertama itu didapatkan dari pacar yang kedua, ketiga, keempat, atau bahkan terakhir.

Hehehe… Sesi mengeluarkan pendapatnya sudah selesai. Sekarang bagaimana diri kitanya, jawaban dari obrolan antara aku dan Kakak akan kalian ketahui dari hati masing-masing. Toh kalian yang merasakannya.

Tetapi buat aku sekarang. Tak penting siapa itu cinta pertamaku, apalagi pacar pertamaku. Karena yang aku cari adalah cinta terakhirku yang akan menjadi pendampingku sampai akhir hayat. Aku mencari imamku untuk menyempurnakan ibadahku, untuk menuntunku menjemput syurgaNya.
Yang aku cari adalah seorang imam yang akan mempertanggung jawabkan keluarganya di hari akhir kelak, bukan pacar yang hanya ada untuk sesaat.