Secarik Surat

Secarik Surat

Untuk engkau, bintang hatiku yang telah redup cahayanya.
Terima kasih karena engkau telah sempat menjadi bintangku.
Terima kasih karena engkau telah sempat bersedia menerima cahayaku.
Maafkanlah aku yang selalu membuatmu bersedih, selalu membuatmu merasa bersalah, selalu membuatmu marah, selalu menyimpan rahasia dalam maksudku, selalu susah untuk kau nasehati, selalu membuatmu bingung, dan selalu menjebakmu dalam pilihan-pilihan yang tak kau inginkan.

Wahai kau yang sempat menjadi bintang hatiku.
Selalulah pancarkan keindahanmu pada semua orang di sekitarmu. Mereka membutuhkanmu, mengharapkanmu.
Jadilah yang terbaik untuk mereka, buat mereka bangga terhadapmu, biarkan senyum mereka terus terukir karena kehadiranmu. Kau ada untuk mereka. Mereka ada untuk engkau, kan selalu setia memberikan cahaya untukmu.

Wahai kau yang sempat menjadi jawaban dari do’aku.
Terima kasih dan maafkanlah aku.
Selalu S-Y-F-O-H. Jangan pernah merasa sendiri, banyak orang yang menyayangimu dengan begitu tulus, terlebih keluargamu.
Aku ikhlas dengan semua. Lukisan-lukisan itu kini telah aku simpan dalam galery hidupku. Terima kasih telah berkenan memberikan warna dalam lukisan hidupku.

~Tak ada alasan untuk aku marah kepadamu, tak ada alasan untuk aku benci kepadamu. Terlalu banyak kebaikanmu dibanding dengan hilafmu. Hanya Dia yang berhak marah kepada umatNya. Terima kasih dan maaf.~