Kartu peserta UM UPI 2010

Kartu peserta UM UPI 2010

Memilih, mendaftar, serta mengikuti tes untuk masuk perguruan tinggi negeri maupun swasta adalah salah satu kegiatan baru yang dilakukan oleh para siswa-siswi SMA kelas 3 yang baru lulus. Dan hal itupun saya lakukan, berusaha agar dapat terdaftar menjadi mahasiswi di perguruan tinggi yang saya inginkan. Saya memilih Universitas Pendidikan Indonesia sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan, 2 usaha telah saya lakukan meski usaha yang pertama gagal dan usaha kedua baru saja saya jalani. Usaha pertama saya adalah ikut jalur PMDK, namun sayangnya saya kurang beruntung. Usaha saya yang kedua adalah dengan mengikuti Ujian Masuk pada tanggal 06 Mei 2010, tepatnya adalah hari kemarin (karena saya menulis ini di tanggal 07 Mei 2010).

UM UPI 2010 dilaksanakan dari tanggal 06 sampai 08 Mei 2010. Tapi 07 dan 08 Mei hanya jurusan tertentu saja yang masih ada ujian praktek. Alhamdulillah saya selesai tes tulis dan wawancara di tanggal 06 Mei. Oh iya, saya belum cerita ya, jurusan apa yang saya ambil di UM ini.😀

Saya mengambil jurusan PGSD Bumi Siliwangi, salah satu jurusan yang ada di Fakultas Ilmu Pendidikan. Beruntungnya saya memiliki Kakak yang setia membantu pada saat pengambilan formulir karena kebetulan waktu itu saya masih belum bisa keluar rumah saya perna cerita kalau saya sakit setelah UN. Tapi untungnya saat pengembalian formulir saya bisa pergi ke UPI. Persiapan yang bisa dibilang cukup singkat untuk menghadapi sebuah ujian atau tes, karena saya memang tidak mengikuti bimbingan belajar tapi saya yakin dan tetap optimis dengan usaha yang saya lakukan sendiri di rumah. Awalnya saya merasa kebingungan karena saya sama sekali tidak tahu mengenai gambaran soal yang akan saya kerjakan. Untuk jurusan PGSD yang diujikannya hanya Bahasa Inggris, TPA (Tes Potensi Akademik), dan wawancara. Salah satu teman di Koprol yang bernama Teh Wina menawarkan soal Bahasa Inggris kepunyaan temannya. Dengan sangat senang hati saya mengiyakan, darisana saya tenang karena tahu materi apa saja yang akan saya pelajari. Sedangkan materi TPA dan wawancara saya dapat gambaran dari Kakak dan Mamah tercinta.

Pagi di tanggal 06 Mei 2010 tak terasa ketegangan apapun, entah karena apa bahkan saya terkesan lelet dan santai. Saat turun dari rumah saya mulai agak panik gara-gara sepatu yang saya kenakan copot terus karena licin dari kaos kaki yang dikenakan, terus memaksakan berjalan dengan membuka kaos kaki yang mengakibatkan sepatu jadi licin dan copot-copot terus. Sampai di UPI harus menunggu teman tepat di depan gerbang UPI dan sudah ditunggu teman di depan poliklinik UPI. Bingung dan terburu-buru akhirnya saya memutuskan untuk menemui teman saya yang telah menunggu, eh ternyata dia sudah masuk kelas. Mulai kepanikan semakin menjadi, saya mempercepat langkah dan akhirnya bisa tiba 30 menit sebelum tes dimulai.

Tes pertama adalah Bahasa Inggris, bisa dilalui dengan lancar walau ada bagian yang saya anggap sulit karena mencari persamaan arti dan vocab yang disuguhkan cukup asing bagi saya.😀 Ada hal yang membuat para peserta di ruangan 1-02 kesal karena kami mengetahu sistem minus di pelajaran Bahasa Inggris beberapa menit menjelang waktu pengerjaan habis, saya bingung karena ada beberapa yang saya tembak. Saya hanya sempat menghapus beberapa nomer saja yang saya ragukan jawabannya. Semua peserta di ruangan itu mengeluh karena kami tidak tahu dengan sistem minus dan semuanya telah dikerjakan. Saya hanya bisa berdo’a mudah-mudahan yang terbaik bisa saya dapatkan.

Tes kedua adalah TPA, 120 soal harus saya selesaikan dengan dibagi menjadi beberapa bagian dan setiap bagiannya diberi waktu yang sama. Bagian pertama 15 menit untuk 60 soal tentang bahasa yaitu persamaan dan lawan kata. Bagian kedua terdiri dari 40 soal matematika dasar, saya lupa diberi waktu berapa menit. Matematika yang cukup unik karena sudah lama tidak saya temukan, beruntung saya bisa melewatinya dengan cukup baik. Bagian terakhir adalah mencocokan potongan bentuk dari sebuah gambar dan kemungkinan gambar bangunan dari sebuah kerangka. Kalau mood saya sedang jelek pasti saya tidak akan bisa melewatinya. Alhamdulillah Allah memberi ketenangan dan kelancaran.

Sejam setelah tes tulis, wawancara pun dimulai. Terlebih dahulu saya dan 2 teman baru saya pergi mencari ruangan yang akan dijadikan sebagai tempat wawacara kelompok kita. Kita wawancara di Gedung WB Barat Lt.1 tapi saat masuk gedung di lantai 1 hanya ada 1 ruangan dan K61 tidak ada di ruangan itu. Akhirnya kita naik ke atas sampai lantai 3, tetap tidak ada. Penjaga gedung dengan nada yakin bilang “cuma 1 ruangan Neng di lantai 1, kalau di atas tidak ada coba ke WB Timur.” Dengan terpaksa kita pergi WB Timur sampai lantai 3, tetap K61 tidak ditemukan. Akhirnya kita menyerah dan bermaksud untuk sembahyang dzuhur dulu, dengan tidak sengaja saya menemukan ruangan di luar gedung dan di pintunga itu ada tempelan kertas disana tertulis K61. Disana kita senang sekali walau kesal karena penjaganya dengan yakin bicara lantai 1 cuma 1 ruangan yang di dalam, ternyata di luar gedungnya ada.

Bagian wawancara adalah bagian yang menegangkan, dosen di K61 paling lama mewawancarai peserta, tidak seperti dosen di K59 dan K60. Saya absen dua dari akhir di K61, dan saat saya diwawancarai cepat sekali, saya sempat pesimis tapi ternyata tang terakhir pun sama. Diduga Ibu dosennya sudah lelah karena dosen di K59 dan K60 sudah selesai sejak sebelum saya masuk.

Wawancaranya lucu, ditanyanya dikit tapi disuruh-suruhnya banyak. Mulai dari jalan serasa jadi model, disuruh nyanyi lagu anak-anak dan lagu wajib nasional. Awalnya disuruh nari daerah tapi saya tidak bisa.

Dan akhirnya hari yang menegangkan telah dilalui dengan lancar berkat do’a semua orang yang menyayangi saya.

Kini hanya tinggal berdo’a dan menunggu hasil, usaha maksimal telah saya jalani semoga hasilnya maksimal pula.

Saya yakin Allah tahu apa yang terbaik untuk saya.

SYFOH!!!