Ibu… Engkau terlalu suci jika harus menanggung dosaku.
Engkau terlalu baik jika harus menerima cacian karenaku.
Engkau terlalu tangguh jika harus selalu bekerja hanya karenaku.
Engkau terlalu mulia jika harus bersusah untuk penghidupanku.

Terlalu banyak pengorbananmu untukku Ibu, namun apa balasan yang kau dapat dariku?

Hanya dosa dan kesalahan yang senantiasa aku torehkan dalam kehidupanmu. Selalu aku menyusahkanmu, selalu aku membuat kau menitikkan air mata, selalu aku membuat kau lelah hanya untuk memenuhi keinginanku, selalu kau merasa sakit hanya untuk melindungiku, selalu kau berkata iya untuk sebuah kenyataan tidak, selalu kau berkata tidak hanya untuk membahagiakanku, selalu…selalu…dan selalu membuat diri dan batinmu tersiksa hanya karenaku.

Apa yang dapat ku berikan kepadamu?
9 bulan kau mengandungku, berdo’a dalam setiap hela nafasmu untuk calon bayimu yang lama kau nantikan. Aktifitasmu terganggu hanya karena seorang bayi yang berada dalam rahimmu.

Ketika ku terlahir ke dunia, susah payah kau menyelamatkanku. Berusaha sekuat tenaga bahkan rela jika harus melepas nyawa hanya karena aku. Tangis pertamaku adalah kebahagiaan besarmu, tapi tak berhenti disana. Bertambah hari, bertambah pula kesusahan yang kau dapati hanya untuk aku. Kau mendidikku dengan susah payah, selalu ada bantahan dan ego yang ku berikan. Kau tetap sabar, bahkan sama sekali tak pernah kau membentakku apalagi memaki diriku yang tak tahu diri ini.

Waktu terus berjalan hingga aku beranjak remaja, kenakalanku semakin menjadi. Engkau tetap sabar, tabah, tak pernah berontak seperti diriku yang mendapati ketidak puasan. Tak henti kau memberikan nasehat, tapi apa yang ku lakukan? Tak pernah peduli bahkan nasehat-nasehatmu menjadi angin lalu, pergi bersama waktu yang berganti.

Kini, aku mulai dewasa. Astagfirullah… Apa yang telah aku lakukan selama ini terhadap Ibuku? Wanita mulia yang Allah utus untuk menuntunku serta mendidik menuju jalanMu. Begitu banyak waktu yang aku sia-siakan. Aku terlalu terbuai dengan keindahan tanpa menyadari bahwa keindahan yang sesungguhnya telah ada bersama Ibuku. Aku gagal menjadi anak yang soleh, aku tak bisa menjadi seperti apa yang orang tuaku inginkan. Mengapa aku begitu senang membangun bukit kesalahan, begitu bangga mendirikan menara dosa, begitu bahagia menciptakan alur nestapa, begitu riang menyaksikan kesedihan orang tua. Mengapa?
Terlalu banyak dosa yang telah aku perbuat padamu Ibu. Terlalu sedikit bahkan nyaris tak ada kebaikan yang telah aku berikan, aku tak dapat membalas semua jasamu selama ini.

Berilah aku pengampunan darimu, aku tak mau Allah murka kepadaku hanya karena kelalaianku selama ini.
Rabb… Berilah aku kesempatan, biarkanlah aku membalas semua jasa Ibuku. Izinkanlah aku menebus semua dosaku dengan taubatku, berilah jalan kepadaku untuk memperbaiki semua salahku.

Ibu adalah harta yang paling berharga dalam kehidupanku, dialah pahlawan seumur hidupku, dialah guruku yang tak pernah putus mengajarkanku begitu banyak hal, dialah penjagaku dalam setiap waktu, dialah sumber kasih sayang dalam kehidupanku, dialah nyawaku, dialah bahagiaku, dan dialah mutiara hatiku.
Maafkanlah aku Ibu…