Menjelang Pementasan

Menjelang Pementasan

Wih… Udah pada baca “Kilas Bandung Membara” kan? Gimana-gimana, adakah yang menarik?πŸ˜€
Sesuai dengan janji saya yang akan menceritakan setiap kelakuan dan kenarsisan kami saat sebelum, sesudah bahkan detik-detik menjelang pementasan.πŸ˜€

Seperti biasa, berawal dari reading dan pembagian peran yang cukup menyulitkan. Saat semua peran serta crew telah terbagi, tibalah saat-saat latihan yang bisa dibilang kurang mulus. Mengapa demikian? Faktor utamanya adalah budaya jam Indonesia yang terbuat dari karet.πŸ˜€ Tak jarang kita menunggu berjam-jam untuk latihan, namun ada saja tingkah yang kami lakukan diantaranya foto-foto. Tak usah membicarakan proses yang terlalu panjang ya, kita langsung loncat saja ke H-2 dan H-1πŸ˜‰

H-2 adalah hari pengumpulan bahan-bahan untuk semua properti, kostum, serta alat make-up. Berhubung saya bagian di properti maka sayalah yang turun ke pasar dan toko-toko bersama Erlin. Berpanas-panas ria mencari alat-alat yang tidak semuanya mudah dicari. Hari itu adalah penjelajahan ke bukit ‘rampe’.πŸ˜› Hanya untuk mencari cempor (lampu minyak yang terbuat dari kaleng) kita berdua berkeliling mengunjungi setiap tukang rampe dan tukang perabotan. Alhasil tuh barang tidak bisa ditemukan, untungnya ada alternatif lain yang bisa menggantinya. Kembali ke Sekolah dengan lelah, tapi terobati dengan makan mangga muda ceritanya padahal udah manis.

Tanggal 15 Desember 2009 adalah hari yang sangat sibuk bagi kita, melengkapi properti, seting panggung, dan GR. Tidak ketinggalan juga mempermasalahkan bagaimana untuk dokumentasi di hari H dan perasaan tegang menanti hari pementasan. Tapi ternyata semuanya bisa diatasi, kesibukan itu bisa menghasilkan kebahagiaan karena dikerjakan bersama-sama.

Dramatis!!!
Apanya yang dramatis, ceritanya? Hahaha…
Kata itu merupakan kata kunci di H-1, pencetusnya A Rizal. Dia yang paling keukeuh untuk membuat tebing di setting panggung, setiap satu lembar kertas yang telah dia tempel dan bentuk langsung mengucapkan “waw, dramatis”. Bosan mungkin mendengar kata itu sepanjang di dalam aula, tapi sayangnya tidak bagi kami. Kata itu menjadi kata kunci bagi siapa saja yang mahiwal (berbeda pendapat). Semuanya luluh hanya karena kata “DRAMATIS”. Memang sangat dramatis sih, segala hiasan memanfaatkan fasilitas siswa yang ada. Rumput untuk properti kunburan pun asli, aku dan Mevysa sampai tiba-tiba rajin nyabutin rumput di depan kelas.πŸ˜€ *Padahal kalau pas PLH pada gak mau. Apalagi pohon-pohonnya, sampai memetik daun yang kering.πŸ˜€

Kan zaman dulu!!!
Apa lagi tuh? Lain Rizal lain juga anak perempuan.πŸ˜€
Tahulah masalah anak perempuan apa, ‘krisis PD’. Hampir semua kostum anak perempuan gak ada yang normal. Aku, jadi suster dengan rok panjang yang takut kebanjiran dan sempit ditambah lagi dengan sepatu putih yang sudah lama penuh dengan debu. Mevysa, Reni, Nurhasanah yang harus memakai kostum hitam-hitam dengan sepatu ceko. Dea yang harus memakai baju dokter kecil. Rahmati yang memiliki kasus sama dengan aku, rok yang kesempitan. Ghoi yang bermasalah dengan roknya yang bermotif. Erlin yang harus berbusana kebaya dan menutupi kerudung bermotif dengan kerudung polos. Setiap satu orang ngeluh, semuanya kompak “kan zaman dulu” dan semua langsung tertawa karena kami sebenarnya tidak tahu zaman dulu memangnya seperti apa.πŸ˜€ Hihihi…

Tapi semuanya menyimpan kenangan tersendiri, susah, senang, lelah, masalah, bahkan perbedaan menjadi bumbu dalam perjalanan drama kali ini. Kedewasan dan pengendalian ego diuji saat itu. Tapi semuanya bisa terlewati hingga terciptanya drama.

Drama yang sukses. Hal yang ditakutkan bisa hilang karena kesungguhan dari setiap individu. Alhamdulillah banyak mendapat respon positif dari para alumni dan yang lain. Sayang dokumentasi saat pementasan gagal. Untuk melihat foto-foto kami yang sudah kelewat narsis, bisa dilihat di grup facebok dengan nama grupnya “16 Sobat”.

Akankah ada drama lagi? Insya Allah jika ada, akan saya share lagi ok! Drama terakhir di saat SMA.😦