16 Desember 2009 merupakan waktu yang telah ditetapkan bersama. Hari Rabu adalah hari yang sangat melegakan bagi kami kelas XI dan XII Bahasa, hari yang penuh dengan tawa, canda, serta ketegangan. Semua keluarga besar Bahasa berkumpul, walau tak semua personil bisa hadir.

Hari pementasan yang sudah dinanti, entah karena sudah tidak sabar atau karena ingin cepat-cepat lepas dari beban (ketakutan saat penampilan drama).

“Bandung Membara” ialah judul dari drama kelas XII Bahasa. Drama yang menceritakan tentang pembakaran kota Bandung, pembakaran yang terpaksa dilakukan untuk mempertahankan Ibu pertiwi dari para penjajah kala itu. Beberapa diantara kalian pasti langsung berpikir dan bergumam “pembakaran kota Bandung? Mirip Bandung Lautan Api donk?”. Tenang, disini kami bukan plagiator tanpa tujuan. Memang benar, “Bandung Membara” adalah drama yang diangkat dari kisah nyata yaitu Bandung Lautan Api yang sudah kita ketahui di buku-buku sejarah sekolah.

“Kenapa judulnya tidak Bandung Lautan Api?”
Drama ini hanya mengutip cerita intinya yaitu pembumi hangusan kota Bandung, alurnya sudah jelas berbeda karena dipersingkat, waktu pementasannya pun hanya satu jam kurang. Nama pemainnya pun berbeda dengan tokoh asli pejuang Bandung Lautan Api, karena faktor untuk menghindari kesalahan.

Dengan mengambil inti cerita serta perbedaan dari tokoh dan lain-lain, maka drama ini memang tidak sama dengan Bandung Lautan Api. Hanya cerita pembumi hangusannya saja yang mirip. Naskah ini ditulis oleh ORBIS dengan pengeditan oleh Rizal A. Ghani.

==============================================================

Dalam drama ini menampilkan 8 pemeran utama, diantaranya:

  • Komandan, diperankan oleh Rheinhard Jonatan Badar.
  • Pratiwi (Istri Komandan), diperankan oleh Mevysa Grahayu.
  • Marwan, diperankan oleh Rizal Abdul Ghani.
  • Bahri, diperankan oleh Ahamd Sihabudin.
  • Kartika, diperankan oleh Reni Utriani.
  • Trio Gelo 1, diperankan oleh Handian Riadi.
  • Trio Gelo 2, diperankan oleh Nurhasanah.
  • Trio Gelo 3, diperankan oleh Ryan.

Selain pemeran utama dengan jumlah 8 orang, dalam drama ini juga menampilkan 7 orang pemeran tambahan serta 1 narator. Diantaranya:

  • Suster 1, diperankan oleh Asri N Sari.
  • Suster 2, diperankan oleh Dea Lutfiatu.
  • Suster 3, diperankan oleh Muliani Ghoida S.
  • Suster 4, diperankan oleh Rahmati Aini.
  • Anak Marwan, diperankan oleh Nurul Pusparini.
  • Korban 1 (pembaca puisi 1), diperankan oleh M. Syaeful Anwar.
  • Korban 2 (pembaca puisi 2), diperankan oleh M. Firdaus.
  • Narator, dibawakan oleh Erlin Fitria N.

===============================================================

Cerita ini berawal dengan peperangan yang menewaskan begitu banyak prajurit, bahkan komandan pun tewas dalam peperangan kala itu. Sebagai seorang istri, Pratiwi merasakan sedih yang teramat sangat ketika mendapati suaminya tengah terbaring menahan sakit karena luka di sekujur tubuhnya. Sebelum meninggal, komandan memberi amanat kepada Pratiwi agar meneruskan perjuangan. Sayangnya nyawa komandan tak dapat terselamatkan, jerit tangis pun pecah kala itu.

Karena sudah tak ada lagi komandan yang senantiasa memberi arahan serta memimpin jalannya perang, maka keesokan harinya diadakan apel untuk menentukan pengganti komandan. Pratiwilah yang terpilih sebagai pengganti komandan meski awalnya Pratiwi tidak mau mengemban tugas itu, namun karena kepercayaan dan seruan para prajurit maka Pratiwi pun bersedia mengemban amanat tersebut.

Malam hari di kediaman Pratiwi. Diadakan rapat kecil antara Pratiwi, Kartika, Bahri dan Marwan untuk mengatur strategi perang selanjutnya. Ditengah rapat, Marwan datang dengan tergesa-gesa. Dia mengabarkan bahwa pemerintah pusat memerintahkan agar membumi hanguskan kota Bandung. Terjadi pro dan kontra saat itu, mereka berdebat mempertahankan pendapatnya masing-masing. Dengan suara lantang dan tegas, sebagai seorang komandan Pratiwi mengambil keputusan untuk menjalankan rencana sebelumnya namun jika rencana itu tidak berhasil maka Bandung akan dibumi hanguskan.

Disela-sela keseriusan dan kegentingan mengenai keputusan untuk membumi hanguskan kota Bandung, Trio Gelo hadir memberikan suasana humor. Dengan pelatihnya yang feminin namun kadang-kadang tegas dan kedua anak buahnya yang tidak tahu harus bagaimana saat perang nanti. Trio Gelo 1 pun kewalahan melatih dua anak buahnya yang tidak pernah serius saat latihan.

Pertempuran pun dimulai, semua prajurit berusaha dengan sekuat tenaga, mempertaruhkan nyawa serta raga demi tertancapnya sang saka, demi mempertahankan kota Bandung dari para penjajah. Tidak ada cara lain, akhirnya kota Bandung pun dibumi hanguskan demi mempertahankan bumi pertiwi dari tangan-tangan penjajah yang tak bermoral. Semuanya hancur, semuanya tewas di medan pertempuran. Kepulan asap serta cucuran darah menghiasi kehancuran kota Bandung yang sebenarnya tak pernah diharapkan. Kemerdekaan tanpa cara membumi hanguskan adalah yang didamba, namun kenyataan berkata lain.
Saat itu Bahri selamat meski luka, tapi tak separah Marwan. Marwan selamat dengan kakinya yang terluka parah. Bahri mengajak Marwan untuk mengobati luka di kakinya, setelah itu upacara bendera karena mereka telah merdeka, terbebas dari para penjajah. Marwan menolak, dia meminta Bahri untuk mencarikan bendera merah putih. Meski kakinya terluka parah, dia tetap ingin melihat sang saka berkibar dan memberikan hormatnya untuk yang terakhir kali. Bahri pun memenuhi permintaan Marwan, bendera merah putih pun ditemukan oleh seorang suster yang selamat kala itu. Dengan tubuh yang ditopang oleh Bahri, Marwan berusahaย  sekuat tenaga menghormat bendera merah putih dengan penuh kebanggaan dan rasa haru karena mereka telah berhasil membebaskan kota Bandung.

20 tahun telah berlalu, Bahri berjiarah ke makam pahlawan. Dia mengenang masa lalu saat berjuang bersama teman-temannya, tiba-tiba datang seorang bapa-bapa dengan kaki yang pincang. Bapa-bapa itu datang ke makam dengan ditemani putrinya. Terjadi percapakapan yang cukup panjang saat itu, hingga akhirnya Bahri tahu bahwa bapa-bapa berkaki pincang itu adalah Marwan teman seperjuangannya dulu. Marwan pun mengenali Bahri, dengan bangga mereka membicarakan tentang rasa patriotisme yang masih ada pada diri masing-masing. Dengan penuh kebanggan, Marwan memperkenalkan anak semata wayangnya kepada Bahri.

================================================================

Adakah rasa patriotisme di diri kalian saat ini? Bagaimana cara untuk membuktikannya?
Tak ada teori khusus untuk pembuktian rasa patrotisme. Hargailah jasa para pahlana terdahulu, lakukan apa yang terbaik untuk pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Hanya hati yang tulus serta kesadaran diri masing-masing yang akan menemukan pembuktian dari sebuah kata yaitu “Patriotisme”.

=================================================================

Itulah kilasan dari drama “Bandung Membara”. Dikarenakan videonya yang gagal, maka saya tidak dapat memenuhi beberapa permintaan yang meminta agar upload ke youtobe. Jadi dari tulisan di atas saja ya.๐Ÿ™‚ Untuk dokumentasi foto atau cerita di balik drama tersebut, dapat kalian baca di postingan berikutnya. *menunggu pengumpulan hasil dokumentasi yang tersebar di beberapa kamera* hehehehe…๐Ÿ˜€