Marhan ya Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan

Waktu berjalan begitu cepat, kini Ramadhan 1430 H akan segera tiba dan hanya tinggal menghitung jam. Subhanallah, rasanya baru kemarin Ramadhan aku jalani. Ramadhan kali ini adalah Ramadhan ke3 dimana aku jauh dari Mama dan Ade, karena tugasku untuk menunaikan kewajiban dalam menuntut ilmu untuk masa depan nanti. Saat sendiri di rumah aku terdiam, merenung dan membayangkan sejenak kebiasaan-kebiasaan aku saat masih kecil di bulan yang penuh ampunan itu.

Banyak sekali bayangan masa kecil yang membuat aku tertawa geli bahkan sampai membuatku meneteskan air mata. Sehari sebelum Ramadhan tiba, kebiasaanku di masa kecil adalah bermain bersama Mama dan teman-teman. Masak bareng sampai makan pun sama-sama, sering sekali disebut dengan nama munggahan. Entah apa arti sebenarnya dari kata munggahan itu, sampai saat aku menulis ini aku belum juga menemukan arti yang sebenarnya.🙂 Tapi yang sering aku temui, munggahan itu makan-makan atau jalan-jalan tapi ujung-ujungnya berakhir dengan acara makan. Mungkin munggahan adalah acara makan-makan sehari sebalum Ramadhan tiba.

Sejenak mengenang masa kecilku di bulan Ramadhan.😉

Saat Ramadhan tiba aku pun gembira, tapi lucunya bukan masalah apa aku bisa menjalankan kewajibanku atau tidak, yang ada di benak saat aku kecil adalah langsung ke Idul Fitri dan baju baru. Baru Ramadhan hari pertama aku sudah sibuk memilih dan mencari baju juga sepatu seperti apa yang nanti akan diajukan kepada orang tuaku agar dibelikan saat Idul Fitri tiba, selain baju dan sepatu juga amplop-amplop kecil yang berisi uang sudah aku bayangkan dan aku list siapa saja yang akan memberi, selain itu juga masakan Nenek yang akan memanjakan lidahku selama aku berada di rumahnya. Geli memang saat aku mengingat hal ini.🙂

Hari-hari saat Ramadhan aku lalui dengan cukup gembira, tentunya tak lupa aku menghitung hari akan datangnya Idul Fitri.😀

Masa kecilku sungguh sangat membahagiakan, saat setelah sahur aku pergi kuliah subuh ke madrasah bersama teman-teman sebayaku. Saat pulang dari kuliah subuh, aku janjian bersama teman-teman untuk bermain bersama, semua permainan tradisional pun kita mainkan sampai kita lupa waktu dan matahari pun kian meninggi. Aku baru pulang saat Mamah atau Kakak datang menjemput, tiba di rumah aku langsung tidur sampai dzuhur tiba. Saat bangun aku disuruh Mamah untuk mandi kemudian tadarus, saat ashar tiba aku pun kembali pergi ke madrasah untuk mengaji sampai matahari bergegas untuk sembunyi. Satu jam sebelum adzan berkumandang aku selalu bermain bersama Kakak dan saudara sepupuku. Hingga adzan pun akan berkumandang dan aku bergegas duduk dihadapan makanan dan minuman yang telah Mama sediakan. Sambil terduduk, pandanganku tak lepas dari gerak jarum jam sambil berkata “Mah, kapan bukanya?” tanyaku dengan wajah datar dan harap-harap cemas😀. Mama pun menjawab sambil tersenyum “sebentar lagi, tunggu adzan berkumandang” aku pun langsung membidik makanan-makanan yang ada di hadapanku dan kembali berceloteh “Mah, nanti yang ngisi mangkuk-mangkuk dan piring aku aja ya Mah”. Mamapun tertawa sambil mengisi semua mangkuk dengan kolak “iya, tapi mendingan isi aja punya kamu kalau sudah besar baru kamu boleh mengisi semua”. Akupun mulai murung, dan dengan sigap mamah berkata “Kamu masih kecil, nanti makanannya tumpah lebih baik mamah aja yang ngisi kamu nikmatin aja makanannya”. Aku pun kembali tersenyum dan mengerti. Setelah aku menikmati ta’jil akupun bergegas shalat magrib berjama’ah bersama Mama dan Kakak, makan bersama dan tarawih ke mesjid, yang dilanjutkan dengan ngemil dan nonton TV. Terus berulang seperti itu hingga Idul Fitri pun tiba, pakaian baru yang telah diajukan sudah ditangan amplop-amplop kecilpun akan segera aku dapatkan. Semua keluarga berkumpul, aku yang masih polos turut gembira dengan bermain kembang api dan petasan bersama saudara-saudara yang sebaya denganku. Takbirpun bergema dimana-mana, hari kemenangan pun akan segera diraih.

Alhamdulillah… 1 Bulan penuh telah terlalui. Pagi yang indah, penuh akan keceriaan dan kebahagiaan yang diikuti dengan gema takbir di seluruh penjuru dunia. Pergi ke lapangan untuk shalat Ied, kemudian pulang ke rumah untuk sungkem dan makan bersama. Sungguh nikmat yang sangat sempurna, semua anggota keluarga hadir. Tak lupa amplop-amplop kecilpun aku tagih bersama adik-adik sepupuku yang sama-sama masih kecil dan polos sepertiku waktu itu.

Itulah sekilas masa kecilku saat Ramadhan tiba, membuat aku tertawa geli dan terkadang menyesali akan hal yang baru aku sadari. Tapi masa lalu bukanlah hal yang harus diratapi dan disesali, masa lalu adalah hal yang harus disyukuri. Karena dari sanalah kita bisa belajar dan menata diri jauh lebih baik lagi, insya Allah.

Saat ini aku sendiri di rumah, tak ada siapapun yang menemani. Papa dan Kakak pergi kerja, Mamah dan Ade ada di kota lain yang hanya bisa bertemu saat kami libur. Saat ini tak ada munggahan bersama, tak ada jalan-jalan. Yang aku lakukan hanya berselancar di dunia maya dan mencoba menulis tentang masa kecilku disini.🙂

Pakaian baru yang dulu sering aku list saat Ramadhan tiba kini tak ada, karena hari kemenangan bukan ditentukan dengan pakaian baru atau sepatu baru. Tapi yang aku harapkan adalah hati yang suci dan pribadi yang baru dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Dulu aku hanya terbawa kebiasaan yang belum aku pahami apa makna dan arti dari semua yang aku jalani.

Kebiasaanku di masa kecil perlahan kian pudar bahkan hilang, karena usiaku pun tak lagi kanak-kanak aku telah remaja dan sudah saatnya memilih jalan kedewasaan. Aku mulai berpikir bijak dan rasional, sudah tak pantas aku berhura-hura dan asik bermain seperti dulu.

Sudah bukan saatnya aku memikirkan amplop-amplop kecil ataupun baju baru, tapi saatnya aku memikirkan hati dan pribadiku yang baru. Sudah bukan saatnya aku bertanya dan meminta untuk mengisi mangkuk-mangkuk dan piring-piring dengan makanan tetapi saatnya aku meminta “Mah, aku saja yang masak”, karena sudah saatnya aku mencoba dewasa. Sudah bukan saatnya aku asik bermain di luar dan dijemput kakak atau Mamah, tapi aku harus berada di rumah dan belajar sendiri untuk memperbaiki hati dan pribadiku juga lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sudah bukan saatnya aku pergi mengaji atau kuliah subuh dengan dijemput teman, tapi sudah saatnyalah aku pergi dan mencari sendiri ilmu dari guru-guru dan media yang ada dan mudah. Sudah bukan saatnya pula aku menyambut malam kemenangan dengan bermain kembang api dan petasan, tapi saatnyalah aku merenungi semua hasil yang telah aku dapat selama menjalani semua amalan di bulan Ramadhan juga bulan-bulan sebelumnya dan mengucap syukur kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia yang telah Dia berikan kepada semua umat-Nya. Sudah bukan saatnya pula aku pergi ke rumah Nenek hanya untuk memanjakan lidah, tapi saatnyalah aku mansyukuri arti kebersamaan bersama mereka yang aku sayangi.

Bismillah… Ramadhan kali ini adalah Ramadhan penentuanku, aku ingin merubah semuanya menjadi jauh lebih baik dari masa lalu. Hanya tinggal beberapa minggu lagi umurku bertambah dan bagiku sudah saatnya dewasa itu aku pilih, karena banyak yang berkata dewasa itu pilihan dan kini aku berniat untuk memilihnya. Jadikanlah Ramadhan kali ini Ramadhan penuh berkah dan lautan ampun bagiku yang penuh akan dosa dan hilaf. Kuatkanlah dan pertemukanlah aku hingga hari kemenangan itu tiba, juga berikanlah kesabaran dan kemudahan untuk keluarga dan mereka yang ada di sekitarku. Amin…

Tak lupa, semoga Ramadhan kali ini aku bisa memenangkan lomba yang sedang yang aku ikuti, termasuk lomba ini. Amin…

:)Marhaban ya Ramadhan.🙂

:)Mohon Maaf  Lahir Batin.🙂

Sumber gambar: http://blog.its.ac.id/syafii/category/ramadhan-1430-h/