Aku tak ingin seperti matahari yang akan pergi dengan membawa sinar kebahagiaannya. Akan ku biarkan sinar itu tetap ada menemani, karena aku akan lebih ikhlas untuk pergi jika sinar kebahagiaan itu tetap ada. April 29 at 7:55pm

Itu adalah salah satu status di facebook aku. Kenapa aku copas kesini?

Dalam kalimat ini, ada sebuah makna yang ingin sekali aku lakukan pada semua orang. Khususnya bagi orang-orang yang aku sayangi. Dalam kalimat itu mengandung arti,

Sejauh apapun aku pergi, masih ada atau pun tidak, aku ingin tetap ada menyinari hari-hari orang yang aku sayangi dengan kenangan-kenangan indah dan kebaikan-kebaikanku. Bahkan aku ingin aku tetap ada menjadi cahaya terindah dan yang akan selalu menyinari gelapnya, meski aku bukanlah siapa-siapa baginya.

Walau aku tahu apa yang aku inginkan itu cukup sangat sulit untuk dapat dilaksanakan, tak semua orang bisa menerima keinginan itu. Aku telah mencobanya dan hasilnya adalah nihil. Aku tak bisa meninggalkan cahaya itu bersamanya, yang ada adalah cahaya yang aku berikan dia pantulkan. Sakit… Itulah yang aku rasakan, kenapa harus dipantulkan? Tak bisakah cahaya itu disimpan baik-baik? Jika perlu simpan di tempat yang tak akan pernah bisa dia lihat dan dia temui, tapi mungkin cahaya itu sudah tidak dibutuhkannya. Yang ia inginkan mungkin aku benar-benar hilang dan lenyap tanpa menyisakan apapun.

Tapi sampai kapanpun, cahaya ini selalu aku simpan rapi sampai ia akan benar-benar menerimanya setidaknya untuk sekedar disimpan.

Menyimpan cahaya itu pada ruang hampa yang tak akan satu orangpun bisa memasukinya. Menutup rapat dalam sebuah tempat yang diberi nama hati, ditutup dengan menggunakan sebuah pass yang tak akan pernah ada yang bisa menerka. Simpan untuk masa yang cukup panjang, hanya akan dibuka dan diberikan bila waktunya telah tiba dengan cahaya yang semakin bertambah sinarnya &menjadi cahaya yang jauh lebih terang dari sebelumnya. May 28 at 5:15pm

 

*cahaya itu adalah sebuah perasaan sayang dan sebuah kebahagiaan*