_images_0001XI Bahasa adalah suatu kelas yang sangat mungil dan berbeda dari kelas-kelas yang lain. Tak sedikit orang menganggap kalau kelas XI Bahasa adalah kelas yang paling sedikit dan paling rendah peminatnya, mereka hanya memandang kami sebelah mata dan tanpa mengerti kami seutuhnya. Seringkali mereka menganggap kita ini tak ada, bahkan enggan sekali untuk bersama kami. Semua itu kami jadikan hanya sebuah pendapat orang yang perlu kita hiraukan, kita hidup untuk memperjuangkan diri kita dan bukan untuk orang lain. Mereka tak akan bisa merasakan apa yang kami rasakan, mereka hanya tahu dan mengerti sebuah kedudukan bukan arti dari keluarga dan kebahagiaan.

16 adalah jumlah dari kami dalam 1 kelas, kalian tak percaya? Buktikan saja sendiri, terlihat dari jumlah kalau kebanyakan orang memandang kelas Bahasa hanya sebuah kelas yang paling akhir dan sisa. Semua itu salah, kita ada di kelas ini karena sebuah takdir dan kemampuan kita, bukan berarti kita tidak bisa masuk kelas yang paling unggul dan akhirnya lari ke kelas bahasa. Tapi kita ini masuk bahasa dengan sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan jumlah 16, yang selalu dikatakan sedikit kami mencipatakan suatu suasana kekeluargaan di dalamnya. Kami ini keluarga, kami ini saudara, kami ini sama-sama memperjuangkan nasib kita, kami ini sama-sama membuat sebuah ikatan batin yang tak dapat dirasakan di kelas manapun, kami ini adalah satu dan tak akan pernah terpisahkan.

Berbagai cerita telah kami ukir bersama di dalamnya, walaupun kami tak selamanya berjalan mulus tapi itu adalah suatu ujian agar kita tetap satu.

Telah banyak cerita tentang kami, dan diantara cerita kami mengenai kekeluargaan dan kebersamaan itu telah kami buktikan kembali pada hari selasa tanggal 10 Februari 2009.

Mungkin kegiatan kami hanya kegiatan yang sia-sia dan tak ada manfaatnya menurut orang lain. Memang, kita hanya pergi ke pameran buku yang ada di Braga. Sepele sekali mungkin bagi kalian, tapi di dalam itu ada suatu arti yang begitu dalam yang tak bisa dilihat sekali saja dan dimengerti dengan selintas.

Acara kita waktu itu sempat terhalang oleh sesuatu yang datang dari kehidupanku. Waktu itu aku telah berjanji dengan teman-teman bahasa dari lama sebelum acara itu ada, dan aku tak hanya berjanji dengan anak bahasa tapi aku telah berjanji dengan teman lamaku dan temanku di luar sana. Disana aku sempat bingung dan berpikir cukup panjang, tapi aku tidak bisa meninggalkan janjiku pada teman-teman bahasa dan teman lama juga temanku di luar sana. Aku tidak ingin menjadi orang munafik yang mengingkari janji hanya karena suatu alasan yang begitu serba mendadak dan tak ada kabar sebelum aku membuat jadwal di hari itu. Aku disana bingung, pergi meninggalkan kewajibanku dan kepenitngan umum atau diam dan menjadi orang munafik dan membuat orang kecewa?

Astagfirullah…

Ya Allah… aku harus berbuat apa?

Aku melihat kewajibanku dan kepentingan umum itu masih bisa digantikan oleh orang lain, dan aku tidak begitu menjadi penghalang pada kegiatan itu. Masih ada orang lain yang dapat menangani hal itu. Tapi, apa yang akan terjadi jika aku diam dan tak jadi pergi? Akan ada banyak orang yang merasa aku bohongi dan aku ingkari. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagi mereka yang ingin berniat baik dan mengukir sebuah cerita yang begitu bermakna.

Tapi nampaknya, tak semua orang berpikir seperti diriku. Mungkin itulah perbedaan di setiap diri manusia, aku sempat marah dan berontak saat itu saat orang lain tak bisa menghargai kehidupan pribadiku. Karena aku bukanlah robot yang bisa seenaknya diatur oleh orang lain yang tidak berhak mencampuri kehidupan pribadiku. Dan aku bukanlah orang bodoh yang melakukan sesuatu tanpa pemikiran yang matang.

Tapi sudahlah, semua itu mungkin kehilafan dari diriku sendiri dan salah paham dari orang lain.

 ***

Tak ada kejadian aneh dan menarik di awal perjalanan kami saat itu, yang ada hanyalah sebuah rasa kesal dan menyerah karena apa yang kami cari tak dapat kami temukan. Hingga akhirnya, setelah lelah dan bingung memilih buku-buku yang ada disana kami merasa capek dan lelah. Kami pun memutuskan pergi ke BCW untuk mencari makanan atau minuman sebagai pengganjal perut untuk saat itu.

Hal yang amat sangat sepele, “MENCARI MAKANAN DAN MINUMAN”.

Ke setiap sudut BCW kami mencari makanan atau minuman yang bisa kami beli saat itu, tapi nampaknya tak ada yang menarik hati kami. Tanpa direncanakan, kami membeli 1 cup ice cream yang ukuran 1lt untuk semuanya. Saat itu kami berlima, cuma Aku, Ghoida, Mevysa, Nurul dan Reni, akhirnya kami membayarnya dengan membagi sesuai jumlah kami. Sungguh hal yang aneh dan lucu bahkan tak ada artinya sama sekali dari hal itu, tak menunggu lama kami pun segera mengambil tempat duduk yang nyaman untuk makan ice cream bersama-sama. Saat kami makan, kami teringat dengan Firdaus dan M.Syaeful yang masih ada di pameran buku mereka akhirnya kami telpon dan disuruh untuk ke tempat kami berada. Tak lama kemudian mereka pun datang dan ikut makan bersama. Sungguh rame, lucu dan sempat kami narsis pada saat  itu. Seharusnya kami tidak hanya ber7, seharusnya kami ber9. sayangnya Jhon dan Kak Han pulang duluan saat kami para perempuan pergi ke BCW. Dan sayangnya tak semu teman-temanku datang., padahal aku ingin sekali bersama mereka semua. Begitupun dengan teman-temanku yang selain anak XI Bahasa.

Kebersamaan itu nampaknya terpotong karena waktu sudah sangat sore dan takut pulang kemalaman. Dari BCW kami jalan untuk mencari angkot kalapa-ledeng, kami berjalan sampai ke depan SMKN 1 Bandung.

Dan apa yang terjadi disana?

Sesi foto-fotopun terjadi, walaupun di sepanjang jalan aku bersama Ghoida sempat jail memfoto Reni dan Nurul yang sedang berjalan berdua di depan kami. Menunggu angkot yang kosong, itulah yang kami lakukan saat itu. Dan sesi pemotretan pun terjadi sampai akhiranya angkot yang kosong tiba dan dilanjutkan ke sesi 2 di dalam angkot.

Tapi aku dan Abang harus turun duluan dan jalan berdua sampai rumah. Ingin rasanya aku terus bersama mereka ber5, tapi apa boleh buat rumah kita disini.

Sampai rumah itu kira-kira pukul 17.45 WIB, dengan perasaan lelah aku pergi membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum menuju buku-buku yang akan diulangankan.

Disaat aku duduk terdiam, aku baru sadar. Aku telah merasakan dan menemukan apa arti kebersamaan yang sebenarnya. Ternyata kebahagiaan itu akan kita dapatkan dimana pun kita berada dan bersama orang-orang yang dekat dengan kita. Itu semua aku temukan bersama anak-anak XI bahasa tercinta yang telah memberi warna kehidupan baru dalam lukisan hidupku. Bagi sebagian orang, yang telah aku lakukan saat itu adalah sia-sia karena tidak dapat menemukan apa yang dituju. Tapi mereka salah besar, aku memang tidak menemukan apa yang menjadi tujuan awalku, tapi aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berarti dan memiliki makna hidup yang sangat dalam dan tak semua orang bisa menemukan dan mersakannya.

Aku sadar sekarang apa itu arti kebersamaan yang seutuhnya kawan. Aku tidak menyesal telah melakukan salah saat itu, aku harap dalam waktu dekat ini kita dapat merasakannya kembali dan dapat pergi semua. Amin….